0 %

puasa / TAG ARCHIVES

kurma

Sunnah Rasulullah SAW Berbuka Puasa

Published in Faith
by Hafsyah

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, waktu berbuka yang dinanti-nanti terasa begitu indah. Hidangan berbuka yang telah tersaji tak sabar rasanya untuk segera kita santap. Ada banyak hal yang harus diperhatikan selagi berbuka puasa. Pastikan kamu tidak makan terlalu kenyang, mendahulukan menu yang tidak membuat pencernaan ‘kaget’, sehingga tidak mengganggu ibadah malam kita. Misalnya lagi, mana yang harus didahulukan: makan atau salat maghrib—apalagi salat maghrib waktunya sangat terbatas. Untungnya, Rasulullah SAW sebagai tauladan terbaik (uswatun hasanah) telah mencontohkan beberapa adab berbuka puasa. Antara lain:

kurma

-Menyegerakan berbuka puasa

Ada banyak riwayat yang menyebutkan anjuran Rasulullah untuk menyegerakan berbuka puasa. Dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah Saw bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.” (HR Bukhari). Ada lagi hadits lain menyebutkan, Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah Saw bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Abu Dawud). Tidak menunggu bintang yang dimaksud dalam hadits ini adalah berbuka puasa begitu matahari terbenam (penanda waktu maghrib karena ketika itu belum ada jam), bukan ketika hari sudah benar-benar malam hingga telah tampak bintang di langit.

Hikmah sunnah ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umatNya yang telah seharian tidak makan dan minum. Allah SWT pencipta sekalian manusia memahami batasan-batasan fisik manusia dan tidak ingin umatNya kelaparan-kehausan lebih lama lagi.

-Mendahulukan berbuka daripada salat maghrib

Sering kita bingung antara mendahulukan makan atau salat maghrib, karena maghrib waktunya amat singkat. Sedangkan kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk makan, apalagi setelah seharian berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Darda’ RA: “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR At Thabrani). Meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat maksudnya sikap tangan selepas takbiratul ihram hingga menjelang rukuk.

Jika makanan belum terhidang, maka sebaiknya kita hanya membatalkan puasa kemudian salat. Namun jika makanan telah terhidang begitu adzan berkumandang, maka makruh hukumnya meninggalkan hidangan untuk salat. Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim). Dua hadits ini menegaskan pentingnya mendahulukan makan daripada salat, dengan catatan makanan telah terhidang di depan mata. Dalam makan pun, makanlah dengan tenang dan jangan terburu-buru karena belum salat. Secara medis, makan yang tergesa-gesa memang tidak baik untuk kesehatan pencernaan. Selain membuat perut menjadi ‘kaget’, kenikmatan makanan secara psikologis pun akan jauh berkurang.

-Berbuka dengan kurma dan air

Dari Anas RA, katanya: “Bahwa Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji rutab (kurma basah) sebelum salat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji thamar (kurma kering), dan sekiranya tiada thamar, maka Baginda minum beberapa teguk air.” (HR. Imam Ahamd dan Tirmizi). Kurma adalah buah yang paling mudah ditemui di Jazirah Arab pada masa itu. Namun secara medis, manfaat kurma sebagai menu pembuka puasa adalah buah ini tinggi glukosa yang dapat menyuntikkan energi ke tubuh seketika. Selain itu juga penting untuk tidak langsung makan berat dan mendahulukan meminum air untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.

adzan

Bolehkah Makan Sesudah Imsak?

Published in Faith
by Hafsyah

Sering terjadi kita terlambat bangun sahur dan satu lain hal, sehingga tanpa kita sadari telah masuk waktu imsak. Bolehkah kita masih makan dan minum sahur walau sudah memasuki waktu imsak? Apa hukumnya makan-minum sahur sesudah waktu imsak?

adzan

Imsak, secara bahasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak Subuh hingga Maghrib. Namun di Indonesia dewasa ini berkembang anggapan waktu imsak adalah saat ketika harus mulai berpuasa dengan menghentikan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat. Karena sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 187, “Makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu terbit fajar.” Hal ini diperkuat lagi oleh riwayat Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, “Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR. Abu Daud).

Namun adzan yang dimaksud dalam riwayat ini bukanlah adzan Subuh yang kita ketahui sekarang. Pada zaman Rasulullah SAW adzan berkumandang dua kali yaitu oleh Bilal untuk membangunkan umat Islam salat malam, dan oleh Ibnu Ummi Maktum yang merupakan adzan salat Subuh. Dalam hadits dari Ibnu Umar dan A’isyah RA bahwa, “Bilal biasanya beradzan di malam hari. Lalu, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan, karena tidaklah dia mengumandangkan adzan kecuali setelah terbit fajar.” (HR Bukhari & Muslim)

Sedangkan waktu imsak yang kita kenal dewasa ini adalah sekadar pertanda menjelang waktu Subuh. Biasanya berkisar antara 10-15 menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Kita masih boleh makan dan minum walaupun sudah memasuki waktu imsak. Namun alangkah baiknya jika kita telah bersiap-siap untuk menyudahi makan dan minum kita demi sahnya puasa, sekaligus supaya dapat menyegerakan salat Subuh tanpa terburu-buru.

sotr

Hukum Sahur on The Road

Published in Faith
by Hafsyah

Bulan Ramadhan bulannya orang berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satunya adalah sahur on the road (SOTR). SOTR adalah kegiatan sosial berupa membagikan makanan sahur di beberapa titik kepada mereka yang membutuhkan agar orang-orang ini dapat menjalankan sunnah Rasulullah SAW dalam puasa, yaitu makan sahur. Biasanya titik konsentrasi kegiatan SOTR adalah panti asuhan, kantor kepolisian, pemadam kebakaran, masjid, hingga tempat berkumpul pengemis dan anak jalanan.

Sahur on The Roadr o

Namun sayangnya kegiatan SOTR menuai stigma negatif seiring perkembangan pelaksanaannya. Rombongan pelaku SOTR mengemudi ugal-ugalan, menutup jalan seenaknya demi kelancaran perjalanan rombongan pribadi, melanggar rambu lalu-lintas, hingga membawa berbagai bendera dan atribut yang meresahkan masyarakat. Apa hukum sahur on the road menurut Islam?

Sebagaimana hadits yang berbunyi, Dari Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim). Jika kita telaah, niat SOTR sudah cukup baik, yaitu membantu orang-orang yang kurang mampu agar tetap dapat menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Ada juga yang melakukannya sebagai wujud apresiasi terhadap pihak-pihak yang biasa kita abaikan jasanya padahal mereka juga bekerja keras selama puasa seperti petugas kepolisian dan pemadam kebakaran.

Sehingga amat disayangkan pelaksanaannya justru banyak mengandung hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Padahal sebagaimana hadits dari Abu Hurairah RA , Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmizi). Mari kita telaah lagi elemen-elemen pelaksanaan SOTR yang justru bertentangan dengan niat baik di awal, dan kita tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Misalnya membawa berbagai bendera dan atribut yang meresahkan masyarakat. Hal ini dilakukan guna menunjukkan identitas pelaku SOTR, namun jika kita melakukan sebuah kebaikan sambil menonjolkan identitas kita agar diketahui orang, bagaimana dengan keikhlasan amal kita? Bukankah Islam mengajarkan kita agar merahasiakan sedekah? Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, ”Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …(dan disebutkan salah satu dari mereka)… yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim). Sedemikian kuatnya anjuran merahasiakan ibadah ini, hingga secara hiperbolis, jarak sedekat tangan kanan dan kiri pun tidak boleh mengetahuinya.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.

Selain itu, banyak elemen pelaksanaan SOTR yang merugikan orang lain. Misalnya menutup jalan seenaknya yang menyebabkan kemacetan lalu-lintas, dan menghambat atau mempersulit orang-orang dari melaksanakan urusannya. Sedangkan Islam amat menjunjung tinggi sikap tolong-menolong, yang bertolak belakang dengan hal ini. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah…” (HR. Thabrani). Untuk itu, boleh saja kita melakukan SOTR selama diawali dengan niat baik dan dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Semoga Allah menyertai langkah kita dan menetapkan kita di jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin…

ramadhan2

Sunnah-Sunnah Bulan Ramadhan

Published in Faith
by Hafsyah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Allah SWT melipatgandakan berbagai pahala atas amalan-amalan wajib dan sunnah. Selain puasa yang wajib di bulan Ramadhan, ada banyak amalan-amalan sunnah dengan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Apa sajakah sunnah-sunnah di bulan Ramadhan?

ramadhan2

1. Salat Tarawih

Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)

Qiyam Ramadhan yang dimaksud di sini adalah salat tarawih. Rasulullah SAW juga pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu Beliau bersabda, Siapa yang salat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An-Nasai)

2. Sahur

Salah satu cobaan bulan Ramadhan adalah bangun sahur. Ketika kita sedang tertidur lelap, kita harus bangun melawan kantuk dan makan. Bagi sebagian orang, ini amat sulit dilakukan karena sebagian orang tidak terbiasa langsung makan begitu bangun tidur. Namun, Rasulullah SAW menekankan pentingnya sahur, walau hanya dengan seteguk air. Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR Ibnu Syaibah dan Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Ahmad & An-Nasai)

Dalam sahur, disunnahkan bagi kita untuk mengakhirkan waktu sahur. Dari Sahl bin Sa’d RA: Saya pernah makan sahur bersama keluarga saya, kemudian saya bersegera untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari). Kemudian dari Za’id bin Tsabit RA: “Kami makan sahur bersama Nabi SAW kemudian Beliau berdiri untuk salat subuh. Anas bin Malik bertanya kepadanya, berapa jarak antara adzan dengan sahur? Zaid bin Tsabit RA menjawab, kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Menyegerakan berbuka

Ketika adzan maghrib berkumandang, disunnahkan bagi kita untuk menyegerakan berbuka puasa. Bahkan mendahulukan berbuka puasa daripada salat maghrib. Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

4. Memberi makanan buka puasa

Salah satu sunnah lain di bulan Ramadhan adalah memberi makan bagi orang berpuasa. Hikmah sunnah ini adalah untuk menumbuhkan jiwa sosial dan kedermawanan umat Islam. Dari Yazid bin Khalid Al Juhanniy RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa memberi makanan untuk orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (H.R Turmudzi)

Dari Anas RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW datang ke tempat Sa’ad bin Ubadah RA. kemudian ia menghidangkan roti dan mentega, maka Beliau pun memakannya serta bersabda: “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik serta malaikat mendoakan kamu.” (H.R Abu Dawud)

utang puasa

Jika Hutang Puasa Tahun Lalu Belum Dibayar

Published in Faith
by Hafsyah

Maha Pemurah lagi Maha Pengampun Allah SWT memberikan keringanan bagi umatNya yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit atau perjalanan dan sebab lainnya untuk tidak berpuasa. Namun kita wajib membayar hutang puasa itu dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang Ramadhan berikutnya. Sebagaimana dalam riwayat Aisyah RA,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Hadits ini menunjukkan bahwa hutang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadhan). Aisyah membayar hutang puasanya di akhir waktu karena selalu sibuk melayani Rasulullah SAW. Sedangkan Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban, sehingga Aisyah dapat berpuasa tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri. Aisyah RA berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Namun bagaimana jika hutang puasa (qadha) kita tertunda hingga bulan Ramadhan berikutnya? Hal ini dilihat lagi dari alasan tertundanya qadha tersebut.

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga hutang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk Ramadhan berikutnya.

Jawaban yang beliau sampaikan,

ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnya hingga datang Ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari hutang puasanya.

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:

  1. Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati Ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
  2. Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk Ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
  3. Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?

Bagian ini diperselisihkan mayoritas ulama.

Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.

As-Syaukani menjelaskan,

وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًا”: استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم: ابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Sabda Nabi SAW, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadits ini dan hadits semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha Ramadhan, hingga masuk Ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.

At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,

وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)

Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.

Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,

هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi SAW) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).

PAG 134

Tata Cara Puasa Syawal

Published in Faith
by Hafsyah

Puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang dianjurkan dengan berbagai keutamaan dan pahala yang besar. Dari Abu Ayyub Al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim). Lebih lanjuts disebutkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban). Kemudian, bagaimana tata cara puasa Syawal yang benar?

Bagaimana Tata Cara Puasa Syawal?

1- Dilakukan selama enam hari

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, puasa Syawal dilakukan selama enam hari.

2- Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri

Adapun di antara enam hari tersebut diutamakan sehari setelah Idul Fitri. Namun tidak mengapa jika diakhirkan selama masih di bulan Syawal. Hikmah menyegerakan puasa Syawal di awal bulan adalah menunjukkan sikap bersegera melakukan kebaikan.

3- Lebih utama dilakukan secara berurutan

Puasa Syawal boleh dilakukan selama enam hari berturut-turut, namun boleh juga dilakukan tidak secara berurutan. Tak dipungkiri ada rasa malas menjalankan ibadah puasa. Cukup berat untuk menahan makan-minum selama sehari penuh, apalagi ketika lingkungan kita kebanyakan tidak berpuasa. Untuk itu, sebaiknya puasa Syawal dilakukan berurutan sehingga kita terbiasa dan tidak terasa terlalu berat.

4- Harus membayar hutang puasa dulu

Ketika dihadapkan pada ibadah sunnah dan wajib, maka ibadah wajib yang harus kita utamakan. Untuk itu, pastikan kamu sudah membayar hutang puasa Ramadhan tahun ini, baru kemudian puasa Syawal.

5- Boleh dilakukan hari Jumat dan hari Sabtu

Dalam sebuah hadits Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah satu dari kalian puasa di hari Jum’at kecuali bila berpuasa sebelum atau sesudahnya” (HR. Bukhari & Muslim). Lebih lanjut, dari Ummul Mu’minin Juwairiyah, “Rasulullah masuk kepadanya ketika sedang puasa pada hari Jum’at, lalu Rasulullah, “Apakah engkau puasa kemarin?”. Ummul Mu’minin menjawab, “Tidak”. Lalu Rasulullah bertanya kembali, “Apakah besok engkau ingin berpuasa kembali?”. “Tidak”, jawabnya. Lalu Rasulullah bersabda, “Berbukalah!” (H.R. Bukhari).

Para ulama bersepakat bahwa puasa Rasulullah melarang puasa pada hari Jumat karena hari Jumat adalah hari raya umat Islam dalam satu pekan. Sedangkan Sabtu adalah hari agung kaum Yahudi (sabat atau shabat), sehingga umat Islam harus menghindari puasa khusus di hari ini. Maka berdasarkan paparan ini, puasa Syawal boleh dilakukan pada hari Jumat dan Sabtu, selama kamu juga berpuasa pada hari Kamis atau Minggu.

kolak

4 Makanan Khas Bulan Ramadhan

Published in Food
by Hafsyah

Bulan Ramadhan di Indonesia, negara dengan mayoritas muslim banyak dihiasi pernak-pernik khas selain rangkaian ibadah. Selain suasana syahdunya, ada banyak hal lain yang kita rindukan dari bulan Ramadhan. Salah satunya adalah makanan khas yang tidak dijumpai di bulan lain. Apa saja makanan khas bulan Ramadhan?

Timun suri

Timun suri

Buah yang satu ini amat identik dengan bulan Ramadhan. Uniknya, meskipun namanya ‘timun’, dan bentuknya menyerupai mentimun, tapi buah timun suri bukan berasal keluarga mentimun. Timun suri berasal dari suku tumbuhan labu-labuan (cucurbitaceae) dengan bentuk daun dan ukuran biji lebih menyerupai blewah atau melon. Timun suri setengah masak menjadi primadona bulan Ramadhan karena cocok sebagai bahan dasar es penyegar dahaga berbuka puasa. Keunikan lain adalah, timun suri bukan buah musiman sehingga dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun (seperti jeruk, pisang, atau pepaya), namun timun suri hanya marak dijual selama bulan Ramadhan.

Kolang-kaling

Kolang-kaling

Buah atap adalah camilan kenyal berbentuk lonjong dengan warna putih transparan. Kolang-kaling berasal dari biji pohon aren (arenga pinnata) yang dibakar hingga hangus. Setelah dihilangkan getahnya, biji aren ini direbus untuk menghilangkan getahnya selama beberapa jam. Kemudian kolang-kaling direndam larutan air kapur hingga terfermentasi. Kolang-kaling memiliki 93.8% air dalam tiap 100 gram-nya. Sehingga memiliki cita rasa yang menyegarkan untuk berbuka puasa. Selain itu, kolang-kaling juga tinggi serat yang melancarkan pencernaan dan tinggi kalsium yang berkhasiat meredakan nyeri sendi. Kolang-kaling biasa dijadikan komponen pembuatan es atau bahan tambahan dalam kolak.

Kolak pisang

Kolak pisang

Kolak adalah makanan asal Indonesia berbahan dasar pisang dan ubi-ubian yang direbus bersama santan dan gula aren. Kolak merupakan salah satu hidangan takjil paling populer yang sangat identik dengan Ramadhan. Rasa pisang yang lembut, bertemu manis gula aren, dan gurih santan cocok membuka menu buka puasa. Selain pisang, bahan dasar kolak yang tak kalah populer adalah ubi, labu, puding, kolang-kaling, hingga durian.

Biji salak

Biji salak

Nama hidangan ini mungkin akan membuat kita mengernyitkan dahi. Tapi biji salak tidak terbuat dari biji salak sesungguhnya. Biji salak terbuat dari ubi jalar yang dikupas, dikukus, kemudian dihaluskan bersama tepung sagu, garam, dan air. Biji salak memperoleh namanya karena bentuknya yang bulan-bulat menyerupai buah bersisik tajam tersebut. Biji salak dihidangkan dengan kuah kolak yang manis-gurih sebagai pembuka selera berbuka puasa. Ada juga yang menyajikan biji salak dengan kuah gula, lalu disiram santan kental di atasnya.

Tips Gosok Gigi

Tips Menggosok Gigi Saat Puasa

Published in Inspiration
by Laiqa Magazine

Tidak ada bedanya dengan hari biasa, saat berpuasa pun kita harus tetap menggosok gigi secara rutin. Selain bermanfaat untuk menjaga kesehatan gigi, gosok gigi saat berpuasa juga berfungsi untuk menjaga kesegaran mulut dan menunjang penampilan kita. Seperti salah satu hadis dari A’isyah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Bersiwak bisa membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)

Tips Gosok Gigi

Tips menggosok gigi saat berpuasa

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi saat berpuasa agar puasamu tidak batal. Simak tips-tips berikut:

  • Saat tidak berpuasa, umumnya kita menggosok gigi saat pagi dan sore. Tidak jauh berbeda, sebaiknya saat berpuasa kita menggosok gigi saat sebelum imsak dan sore hari saat berbuka puasa.
  • Gunakan pasta gigi yang tepat, maksudnya dengan pasta gigi yang cocok untuk kondisi kita dan memiliki aroma yang tidak terlalu menyengat. Hal ini untuk menghindari makruhnya puasa karena aroma, apabila kita menggosok gigi di siang hari.

Kehati-hatian dalam menggosok gigi

Ibnu Baz rahimahullah berkata:

“Membersihkan mulut dengan gigi dengan pasta gigi, tidak membatalkan seorang yang berpuasa seperti siwak, dan dia harus menjaga (berhati-hati) dari sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokannya. Dan jika ada sesuatu yang masuk ke dalamnya tanpa sengaja maka tidak ada wadha atasnya.” Lihat kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/260.

  • Penggunaan pasta gigi ketika menggosok gigi saat berpuasa memang diperbolehkan, tapi tentu kita harus lebih berhati-hati agar tidak tertelan dan menjadi penyebab batalnya puasa kita.
  • Berkumur saat berwudhu bisa menjadi alternatif pengganti menyikat gigi di siang  saat berpuasa.
  • Saat berbuka dan sahur hendaknya kita minum lebih banyak air putih untuk menetralisir bau mulut selama berpuasa.
  • Jangan lupa untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur, hal ini diwajibkan mengingat banyaknya makanan yang sudah kita makan saat berbuka maupun sesudah shalat tarawih.

Semoga dengan mengetahui beberapa tips menggosok gigi saat puasa, kita bisa tetap segar dan kebersihan mulut kita terjaga selama berpuasa.

Screen-Shot-2015-06-25-at-11.59.49-AM

Bahan Alami untuk Melembapkan Bibir Selama Puasa

Published in Beauty
by Layyinah Ayu Sukmaningrum

Bagian yang paling sensitif dari tubuh dan sangat mudah untuk menjadi kering dan mengelupas adalah bibir. Di bulan puasa, kamu akan semakin rentan dengan bibir kering dan mengelupas karena tubuh kekurangan cairan. Bibir yang kering dan pecah akan kehilangan sinar alaminya dan tak enak dipandang. Selain itu, bibir pecah sangat mudah terinfeksi dan terluka. Sebelum kamu melakukan perawatan dengan lip balm dari toko atau bahkan suntik bibirmu, kamu perlu tahu bahwa ada cara lebih alami untuk mengembalikan cahaya alami bibirmu. Kamu dapat mencoba bahan-bahan alami berikut untuk mengembalikan kelembapan bibirmu dan menjaganya tetap lembut selama bulan puasa.

Screen-Shot-2015-06-25-at-11.59.49-AM

Kelopak bunga mawar

Bunga mawar dapat membuat bibirmu lembap alami dan membuat warna alami bibirmu tampak lebih jelas. Untuk membuat lip balm alami ini, cucilah segenggam kelopak mawar segar dan rendam dalam susu segar selama 3 jam. Lalu, buatlah pasta dari kelopak mawar yang telah direndam. Kamu dapat mengaplikasikan pasta ini pada bibirmu setelah berbuka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur.

Gula

Granula gula berfungsi sebagai exfoliant yang menghilangkan sel kulit mati. Pembersihan sel kulit yang mengelupas ini dapat meningkatkan pembentukan sel kulit baru yang lebih sehat. Lip exfoliant alami dari gula dapat kamu buat dengan cara mencampur 2 sendok teh gula pasir dengan 1 sendok teh madu dan mengaduknya hingga terbentuk pasta. Aplikasikan pada bibir kering dan pijat perlahan selama 1 menit. Setelahnya bilas dengan air hangat. Ulangi setiap hari saat akan tidur.

Krim Susu

Krim susu adalah pelembap bibir yang sangat baik. Krim ini merupakan pengobatan yang tepat untuk bibir kering yang sudah akut. Kamu cukup mengaplikasikan krim susu pada bibirmu dan memijat pelan lalu diamkan selama 15 menit. Bilas dengan air hangat setelah selesai. Kamu dapat menggunakannya setiap hari saat berbuka, sebelum tidur, dan saat sahur.

Madu

Pelembap alami ini dapat menjadi anti bakteri alami. Madu akan menjaga bibir keringmu yang pecah dan terluka dari infeksi dan serangan bakteri. Kamu dapat menggunakan madu murni pada bibirmu sebelum tidur. Saat terbangun sahur, cucilah dengan air. Aplikasi madu setiap hari dapat membuat bibirmu lembut.

Aloe vera

Lidah buaya ini adalah pelembap alami yang mengandung anti-inflamasi. Kandungan anti-inflamasi ini akan mengobati dan meredakan sakit pada bibir pecah. Karena karakternya yang higroskopis, aloe vera dapat mengikat air dan menahan kelembapan bibir. Cara membuat lip balm dari aloe vera adalah kupas daun lidah buaya dan peras gelnya. Pijat gel pada bibir pecahmu perlahan dan diamkan selama 15 menit lalu bilas dengan air hangat. Kamu dapat mengaplikasikannya sebelum tidur.

Mentimun

Solusi alami dan mudah untuk bibir kering dan pecah adalah mentimun. Kandungan vitamin dan mineralnya dapat menjaga kulit bibir tetap sehat. Kamu bisa mengiris mentimun dan mengusapkannya pada bibir pecah dan diamkan selama 15 menit. Setelahnya cuci dengan air hangat.

Manga

Krim mangga sangat efektif untuk melembutkan bibir karena mangga kaya akan asam lemak stearat dan oleat. Asam lemak ini berfungsi seperti sebum, minyak alami yang diproduksi oleh kulitmu dan berfungsi melembapkan kulit. Kamu cukup mengaplikasikan bubur atau jus mangga pada bibir dan biarkan hingga kering. Setelah kering bilas dengan air bersih.

foto: berbagai sumber

maag

Makanan yang Harus Dihindari Penderita Maag Selama Puasa

Published in Food, Inspiration
by Hafsyah

Gastritis atas maag, secara sederhana adalah mekanisme pencernaan yang berjalan kurang sempurna. Ketika mencerna makanan, lambung akan otomatis mengeluarkan asam untuk menghancurkan makanan sehingga mudah dicerna. Namun pada penderita maag, akibat pola makan yang tidak teratur, stress, serta beberapa kelainan organ pencernaan, kinerja lambung menjadi berantakan. Sehingga asam lambung yang sedianya melumat makanan, malah melukai lambung itu sendiri.

maag

Kunci aman pencernaan bagi penderita maag adalah menghindari makanan yang memicu produksi asam lambung, mengandung gas (karena hal ini mengganggu keseimbangan gas dan asam lambung), atau sulit dicerna sehingga memberatkan kerja lambung. Penderita maag membutuhkan perlakuan khusus selama menjalani puasa. Walaupun menderita maag, kamu tetap bisa berpuasa dengan normal, asal kamu memperhatikan asupan makanan saat sahur dan berbuka. Berikut daftar makanan yang harus dihindari penderita maag selama puasa:

Soda

Minuman berkarbonasi ini banyak digemari karena rasanya yang segar. Namun penderita maag sebaiknya menjauhi soda karena karena mengandung banyak gas yang kurang baik bagi lambung. Akibatnya kamu akan merasa kembung, banyak bersendawa, dan terasa sebah yang tidak nyaman di perut.

Makanan yang digoreng

Makanan yang digoreng banyak mengandung minyak yang memiliki kandungan lemak tinggi. Bagi penderita maag, makanan berlemak akan memicu produksi asam lambung yang membuat perut terasa perih dan sakit.

Makanan tinggi lemak

Menyambung poin sebelumnya, makanan tinggi lemak yang harus dihindari antara lain makanan bersantan, susu full cream, daging sapi, daging kambing, serta berbagai olahan dairy seperti krim, keju, dan lain-lain. Dan sebagainya. Makanan tinggi lemak semacam ini boleh saja dikonsumsi penderita maag dalam interval waktu tertentu, misalnya sepekan sekali.

Sayur-buah tinggi gas

Sayur dan buah juga tak selama baik untuk penderita maag. Hal ini karena beberapa sayur dan buah memiliki kandungan gas yang tinggi sehingga buruk untuk kondisi pencernaan penderita maag, antara lain: sawi, kol, brokoli, nangka, durian, kedondong, pisang ambon, dan buah-buahan yang dikeringkan.

Sumber karbohidrat tertentu

sumber karbohidrat seperti ketan, mie, pasta, talas, dodol, jagung, bihun, dan segala turunan olahannya sebaiknya dihindari oleh penderita maag karena dapat memicu naiknya asam lambung.

Makanan fermentasi

Makanan fermentasi seperti oncom dan tape, dalam proses pembuatannya menggunakan ragi. Oncom dan tape dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga kurang baik dikonsumsi penderita maag. Uniknya, beberapa makanan fermentasi seperti yogurt dan tempe justru baik dikonsumsi penderita maag.

Makanan yang merangsang kerja pencernaan

Beberapa jenis makanan dapat merangsang kinerja pencernaan sehingga memberatkan tugas lambung, antara lain makanan pedas, asam, bercuka, kopi, dan mengandung banyak merica.

workout-ramadan-1024x683

Manfaat Puasa bagi Tubuh

Published in Entertainment
by Layyinah Ayu Sukmaningrum

Bulan Ramadhan adalah waktu bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan puasa wajib dan meningkatan ibadah selama sebulan. Selama kurang lebih 30 hari, umat Islam menahan lapar dengan tidak makan dan minum dari subuh hingga magrib. Umat Islam hanya diperbolehkan makan dan minum setelah magrib.

workout-ramadan-1024x683

Secara spiritual, berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan untuk memenuhi rukun Islam dan mendapat ridho Allah. Selain untuk kepentingan spiritual, ternyata berpuasa mempunyai keuntungan secara fisik bagi tubuh. Tahukah kamu bagaimana tubuh beradaptasi dalam keadaan kekurangan makanan dan minuman selama sebulan penuh? Adakah keuntungan biologis yang didapat seiring dengan keuntungan spritual yang melimpah? Berikut adalah beberapa manfaat yang bisa kamu dapatkan dari berpuasa.

1. Kesehatan jantung dan pencegahan diabetes

Sebuah penelitian telah dilakukan terhadap orang berpuasa dan dibuktikan bahwa orang yang sedang menjalani puasa dapat menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa berpuasa mengubah metabolisme tubuhmu dan menurunkan tingkat kolesterol jahat. Hal inilah yang dapat mengurangi resiko penyakit jantung hingga 50%. Selain menurunkan resiko penyakit jantung, kadar gula darah yang menurun ketika orang sedang berpuasa membuat kemungkinan untuk terkena diabetes juga menjadi kecil.

2. Berat badan turun

Menurut nutritionist, Adam Brown, ketika tujuan berpuasa bukanlah untuk menurunkan berat badan, justru saat itulah berat badan akan turun. Perlu diketahui, urutan penggunaan bahan bakar oleh tubuh adalah pemakaian glukosa, pembakaran cadangan lemak, lalu pemecahan protein. Ketika glukosa sudah semuanya digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, maka tubuh akan membakar cadangan lemak untuk memproduksi energi. Hal ini membuat cadangan lemak berkurang sehingga berat badan akan turun. Tetapi, kita tidak boleh berpuasa terus menurus atau berlebihan karena hal itu dapat menyebabkan kelaparan dan malnutrisi.

3. Detoksifikasi

Di saat puasa, kamu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk menstabilkan metabolisme dan mengatur sirkulasinya sehingga tubuh dapat mengeluarkan zat-zat sampah atau zat yang tidak berguna. Apalagi jika makanan saat berbukamu adalah makanan sehat seperti buah dan sayur, tubuhmu akan semakin cepat membersihkan toksin yang beredar di dalam tubuh.

4. Kesehatan mental

Kegiatan sosial dan tradisi yang melengkapi Ramadhan juga memberikan manfaat yang besar. Selama ramadhan, kamu mungkin mengusahakan untuk selalu buka bersama dan tarawih berjamaah. Hal ini ternyata sangat berpengaruh terhadap psikologi manusia, karena kebersamaan dan kedekatan dengan orang-orang dapat mengurangi potensi depresi.

5. Mengurangi ketagihan

Berpuasa yang memberikan waktu untuk tubuhmu istirahat dan menata ulang sistemnya ternyata dapat mengurangi ketagihan pada suatu hal. Misalnya, ketika kamu sangat menyukai kopi, kamu akan ‘dipaksa’ untuk mengurangi jumlah kopi yang kamu minum. Hal ini membuatmu dapat lebih mudah mengontrol caffeine intake untuk tubuhmu.

foto: berbagai sumber

Screen Shot 2016-06-06 at 11.31.16 AM

Asal-Usul Kata Ramadhan

Published in Faith
by HijUp

Ramadhan tiba. Sebentar lagi akan kita jelang bulan suci yang ditunggu-tunggu umat Islam. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan Ramadhan selalu identik dengan puasa dan lebaran. Namun, tahukah kamu asal-usul penamaan Ramadhan? Apa makna yang terkandung di balik kata ramadhan? Berikut penjelasan asal-usul kata Ramadhan yang dirangkum dari berbagai sumber.

Screen Shot 2016-06-06 at 11.31.16 AM

Bulan ke-9 dalam kalender Qomariyah ini diambil namanya dari Sedangkan Ramadhan diambil dari kata ramdha, yang bermakna literal pasir terjemur, namun lazim diartikan sangat panas. Karena datangnya memang bulan Ramadhan bertepatan dengan puncak musim panas. Lebih jauh lagi, An-Nawawi dalam kitab Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa tentang penamaan Ramadhan.

Kata ar-ramd yang artinya sangat panas diterjemahkan secara bebas sebagai panas yang membakar. Sebagaimana puasa dan amalan-amalan bulan Ramadhan membakar habis dosa-dosa kita. Sehingga bukan hanya makna panas secara harfiah saja, melainkan panas secara kiasan akan pemmbakaran dosa-dosa manusia.

Ramadhan juga diinterpretasikan oleh ulama tabiin ahli bahasa Kholil bin Ahmad al-Farahidi berasal dari kata ar-ramidh. Ar-ramidh sendiri artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, sebelum memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-ramidh karena menghapus apansnya matahari yang terik menyengat. Sebagaimana bulan Ramadhan membersihkan diri kita dari berbagai perbuatan dosa.

Nah, setelah mengetahui makna yang terkandung dalam kata Ramadhan, ada baiknya kita lebih menghayati dan memaksimalkan bulan Ramadhan 2016 yang akan kita jelang sebentar lagi. Caranya antara lain dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Manfaatkan kesempatan ini, sebab belum tentu kita akan bertemu Ramadhan berikutnya. Wallahu ‘alam.