0 %

Faith / TAG ARCHIVES

Cups of coffee and plate of dates.

Niat Mengganti Puasa Ramadhan

Published in Faith
by Laiqa Magazine

Cups of coffee and plate of dates.

Ada hal-hal yang membuat seseorang tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan, misalnya datang bulan bagi wanita, atau sakit yang tiba-tiba melanda. Oleh karena itu, puasa tersebut harus diganti (qadha) pada hari lainnya di luar bulan Ramadhan.

Lafadz niat yang digunakan untuk meng-qadha puasa Ramadhan yaitu:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa-i fardhi ramadhaana lillaahi ta’aalaa
Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala

Tak ada perbedaan yang begitu jauh antara niat puasa Ramadhan dengan niat qadha puasa. Keduanya tetap diniatkan dalam hati dengan batas waktu niat yakni dari waktu magrib hingga subuh. Qadha puasa Ramadhan wajib hukumnya untuk dilaksanakan sesuai banyaknya puasa yang telah ditinggalkan saat Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:
Qadha (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. ” (HR. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar).

Dari hadits di atas dijelaskan bahwa qadha puasa tidak wajib dilakukan secara berurutan. Qadha dapat dilakukan kapan saja baik secara berurutan ataupun terpisah. Waktu untuk melaksanakannya pun cukup lama, yaitu hingga Bulan Ramadhan berikutnya.

Jika ada orang-orang yang tidak menyelesaikan qadha puasa Ramadhan sampai Bulan Ramadhan berikutnya tanpa halangan yang berarti, maka hukumnya haram atau berdosa. Lain halnya dengan orang yang berhalangan qadha puasa Ramadhan karena udzur, maka mereka tidak berdosa.

Bagi orang yang meninggal dunia sebelum memenuhi kewajiban qadha puasa Ramadhan, pihak keluarga wajib memenuhinya. Sebagian pendapat menyatakan qadha puasa Ramadhan bagi orang yang meninggal dapat diganti dengan fidyah, yakni memberi makan orang miskin sebanyak 0.6 kg makanan pokok untuk setiap hari berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda:
Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban puasa, maka dapat digantikan dengan memberi makan kepada seorang miskin pada tiap hari yang ditinggalkannya.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu ‘Umar)

Sedangkan pendapat lainnya menjelaskan bahwa jika orang yang meninggal tersebut belum meng-qadha puasa, maka pihak keluarganya wajib menggantikan dengan melaksanakan qadha puasa Ramadhan, tapi tidak diperkenankan menggantinya dengan fidyah. Pelaksanaan qadha puasa tersebut dapat digantikan orang lain atas seizin keluarganya.

Rasulullah SAW bersabda:
Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban qadha puasa, maka walinya (keluarganya) berpuasa menggantikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Dari berbagai sumber

530A4194

5 Keistimewaan Bulan Syawal

Published in Faith
by Anastasia Gretti Schender

530A4194

Bulan Syawal adalah bulan kemenangan bagi seluruh umat Islam. Setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa, bulan kesepuluh hijriyah ini hadir dengan keistimewaannya. Apa saja keistimewaan Bulan Syawal?

1. Kumandang Takbir

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaha ilallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaa ilhamdu”

Keistimewaan Bulan Syawal diawali dengan takbir yang dikumandangkan dalam menyambut 1 Syawal. Seluruh umat Islam dengan penuh suka cita mengumandangkan takbir. Bahkan tak hanya di Masjid, di rumah-rumah dan jalan-jalan pun gema takbir menambah riuh hari kemenangan. Kumandang takbir adalah bentuk ungkapan rasa syukur telah selesai menjalani ibadah pada bulan Ramadhan.

2. Kembali pada Fitrah

Bulan Syawal merupakan bulan kembali pada fitrah setelah satu bulan lamanya menahan dan berperang melawan hawa nafsu. Haram hukumnya berpuasa saat telah datang 1 Syawal. Di bulan penuh kemenangan ini seluruh umat Islam akan kembali pada fitrahnya, dilipatgandakan pahalanya setelah menjalankan ibadah wajib dan sunnah saat bulan puasa, serta diampuni dosanya bagi umat yang selalu tak lupa berikhtiar.

3. Meningkatkan Silaturahmi

Jika biasanya disibukkan oleh padatnya aktivitas pekerjaan, maka bulan syawal adalah bulan yang tepat untuk meningkatkan silaturahmi dengan sanak saudara dan karib kerabat. Bulan Syawal adalah bulan penuh rahmat dan berkah karena umat Islam dapat meningkatkan silaturahmi. bagi yang jarang bertemu, momen Bulan Syawal ini dapat dimanfaatkan untuk reuni dan halal bi halal.

4. Puasa Enam Hari Setara dengan Puasa Satu Tahun

Di Bulan Syawal terdapat amalan puasa sunnah enam hari yang nilainya setara dengan telah berpuasa satu tahun. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

5. Bulan yang Baik untuk Menikah

Menurut Imam An-Nawawi, hadits berisi anjuran menikah pada bulan Syawal menerangkan bahwa Siti Aisyah menegaskan: “Rasulullah SAW menikahi saya pada Bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada Bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”.

 

BANDA ACEH, 27/11 - TAKBIRAN IDUL ADHA. Remaja masjid mengikuti pawai takbiran Idul Adha 1430 Hijiriah di  Banda Aceh, Kamis (26/11). Ribuan warga dan ratusan kendaraan ruda dua dan empat di ibukota Provinsi Aceh itu mengikuti pawai takbiran keliling kota.FOTO ANTARA/Irwansyah Putra/ed/hp/09.

Mengapa Harus Takbiran?

Published in Faith
by Hafsyah

Takbir adalah salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup lekat dengan masyarakat Muslim Indonesia. Takbir berkumandang di mana-mana, menghadirkan suasan tersendiri yang tidak ditemukan di hari lain. Takbiran adalah salah satu cara menghidupkan malam hari raya bagi umat Muslim. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Salah satu bentuk pengagungan nama Allah adalah dengan bertakbir.

Tradisi takbiran

Imam Nawawi Rahimahullah dalam kitab Al-Majmu’ mencantumkan sebuah riwayat, “Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW berangkat pada hari raya beserta al-Fadll bin Abbas, Abdullah, Abbas, Ali, Ja’far, al-Hasan, Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, Ayman Ibn Ummu Aiman mereka meninggikan suaranya (mengeraskan suara) dengan membaca tahlil dan takbir, mengambil rute satu jalan hingga tiba di tempat salat. Dan ketika mereka selesai shalat, mereka kembali melewati rute yang lainnya hingga tiba di kediamannya”. (HR. Al-Baihaqi).

Sedangan keras-lembutnya suara takbir tidak diatur dengan jelas, apalagi dengan perkembangan zaman melalui speaker dan sebagainya. Namun cukup secara jahr (keras), minimal terdengar oleh telinga kita sendiri. Rasulullah dan para sahabat juga melalui jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang salat. Tujuannya untuk menyebarkan syiar dan takbir secara lebih luas. Di samping itu, dengan melalui jalan yang bereda, akan terbuka peluang bersilaturahmi dengan lebih banyak orang lagi, baik para tetangga hingga orang yang berpapasan dengan kita di jalan.

Sedangkan di Indonesia, pelaksanaan takbir banyak diwarnai berbagai budaya dan tradisi. Antara lain mengarak bedug atau memukul kentongan berkeliling kampung, menghabiskan malam mengaji dan bertakbir di masjid, dan lain-lain. Bagaimana dengan budaya takbiran di daerahmu? Share tradisi malam takbiranmu di kolom komentar di bawah ini ya!

bajubaru

Baju Lebaran Menurut Islam

Published in Faith
by Hafsyah

Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan baju baru. Ungkapan ini dapat kita temukan hingga pada lagu anak-anak. Berbelanja baju baru seakan menjadi tradisi menyambut Lebaran di Indonesia. Sebagaimana dapat kita lihat pasar, mall, begitu ramai dipadati pembelanja bahkan sejak Ramadhan. Para produsen fashion dan tempat perbelanjaan beramai-ramai menggelontorkan diskon-diskon menarik bertemakan Idul Fitri. Pertanyaan “Sudah beli baju Lebaran belum?” begitu lazim menghiasi percakapan sehari-hari kita. Namun ironisnya, baju baru berkembang menjadi salah satu elemen penting dari Idul Fitri, bahkan menyamai ketupat, Salat Id, mudik, dan lain-lain. Sebenarnya bagaimana hukum baju baru Lebaran menurut Islam?

Baju baru Lebaran

Idul Fitri adalah hari raya besar dalam Islam. Umat Islam hanya mengenal dua perayaan setiap tahun, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Anas RA, “Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr).” (HR. An-Nasai).

Sehingga jelas melalui dalil ini, bahwa pada Idul Fitri, umat Muslim memang harus menyambutnya dengan suka cita penuh kegembiraan. Imam Al-Bukhari dalam bukunya meriwayatkan sebuah hadits Abdullah bin Umar RA berkata, “Umar RA mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah , kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di Hari Kiamat).’” Islam memang mengharamkan pria mengenakan pakaian dari sutera, namun dari hadits ini dapat kita tangkap sunnah untuk berhias mengenakan pakaian terbaik di hari raya Idul Fitri sebagai bagian dari suka cita kita menyambut Lebaran.

‘Kegelisahan’ akan baju baru Lebaran rupanya telah ada sejak zaman penyebaran Islam. Sebagaimana diriwayatkan sesungguhnya Umar bin Khattab RA pernah melihat putranya memakai baju yang usang pada Hari Raya, lalu Umar menangis, sehingga putranya bertanya, “Apa yang membuat ayah menangis?”. Umar berkata, “Hai anakku, aku khawatir kalau hatimu menjadi susah di hari raya ini, ketika teman-temanmu melihatmu memakai baju usang itu”. Putranya berkata, “sesungguhnya hanya hati orang yang kehilangan ridha Allah yang merasa bersedih atau orang yang berani kepada Ibu atau bapaknya. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengharap ridha Allah berkat ridha ayah padaku”.

Sebagaimana hakikatnya sebuah sunnah, maka berhias diri pada hari raya Idul Fitri mendapat pahala, dan meninggalkannya tidak berdosa. Pakaian terbaik pun tidak harus selalu yang baru. Di sinilah umat Islam harus bersikap wara’ (waspada, mawas diri), karena iblis menyusupi hawa nafsu kita untuk menjadi konsumtif dan boros. Dari Wahab bin Munabbih RA, “Sesungguhnya iblis memekik histeris pada setiap hari raya, lalu anak buah iblis berkumpul mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai tuan kami, apakah yang menyebabkan kemarahan Anda?’ Iblis berkata, ‘Sesungguhnya Allah SWT benar-benar telah mengampuni umat Muhammad SAW pada hari ini. Maka kamu sekalian harus berusaha keras dengan segala macam kelezatan dan kesenangan nafsu.’” Termasuk di antara kesenangan nafsu Idul Fitri adalah boros berbelanja, bermewah-mewahan, hingga terlalu banyak makan. Naudzubillahi min dzalik…

tarawih

Hadits Palsu Pahala Salat Tarawih?

Published in Faith
by Hafsyah

Salat Tarawih adalah salat malam yang dilakukan hanya selama bulan Ramadhan. Hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dikuatkan) yang mendekati wajib karena kekhasannya dengan bulan Ramadhan. Kata Tarawih berasal dari bentuk tunggal tarwihah yang berarti duduk sesaat untuk istirahat. Sebab salat ini dilaksanakan malam hari, setelah beristirahat sejenak dari salat Isya. Salah satu riwayat keutamaan salat Tarawih yang populer di bulan Ramadhan 2016 adalah rangkaian pahalanya dari malam pertama hingga malam ketiga puluh.

tarawih

Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang keutamaan Tarawih di bulan Ramadhan lalu Beliau berkata: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya. Di Malam Ke-2 : Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman. Di Malam Ke-3 : Malaikat memanggil dari bawah arsy ; mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu. Di Malam Ke-4 : Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (al Qur’an). Di malam Ke-5 : Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsha. Di Malam Ke-6 : Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi baitul makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya. Di Malam Ke-7 : Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman. Di Malam Ke-8 : Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim as. Di Malam Ke-9 : Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi saw. Di Malam Ke-10 : Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat. Di Malam Ke-11 : Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya. Di Malam Ke-12 : Pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama. Di Malam Ke-13 : Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan. Di Malam Ke-14 : Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat. Di Malam Ke-15 : Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya. Di Malam Ke-16 : Allah swt menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga. Di MalamKe-17 : Diberikan pahala seperti pahala para Nabi. Di Malam Ke-18 : Para malaikat memanggil Wahai Abdullah,”Sesungguhnya Allah telah meredhoimu dan meredhoi kedua orang tuamu.’ Di Malam Ke-19 : Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus. Di Malam Ke-20 : Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh. Di Malam Ke-21 : Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga. Di Malam Ke-22 : Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan. Di Malam Ke-23 : Allah membangun baginya sebuah kota di surga. Di Malam Ke-24 : Dikatakan kepadanya,”Ada 24 doa yang dikabulkan.’ Di Malam Ke-25 : Allah mengangkat siksa kubur darinya. Di Malam Ke-26 : Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama. Di Malam Ke-27 : Pada hari kiamat ia akan melintasi shirothul mustaqim bagai kilat yang menyambar. Di Malam Ke-28 : Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga. Di Malam Ke-29 : Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima. Di Malam Ke-30 : Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air salsabila.”

Namun para ahli hadits meragukan keshahihan hadits ini, karena rangkaian pahala yang terdengar berlebihan, sekalipun ini adalah bulan Ramadhan, bulan berlipatgandanya pahala.

Beberapa ciri-ciri hadits palsu menurut para ahlli adalah:

1. Kelebihan yang disebutkan menyamai atau melebihi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

2. Kelebihan yang disebutkan tidak sepadan dengan amalan yang dilakukan.

3. Redaksi kata-katanya berbeda dengan lafaz dan susunan kata hadits-hadits shahih yang keluar dari mulut Rasulullah SAW.

4. Hadits ini diawali dengan ‘Ya Ali’, sedangkan para ulama sepakat hanya tiga hadits shahih yang dimulai dengan awalan ini, dan hadits tarawih ini bulan salah satunya.

Al Lajnah ad Daimah menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak memiliki landasan dan termasuk dalam hadits-hadits dusta terhadap Rasulullah SAW. (al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ No. 8050). Wallahu ‘alam bishawab.

kurma

Sunnah Rasulullah SAW Berbuka Puasa

Published in Faith
by Hafsyah

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, waktu berbuka yang dinanti-nanti terasa begitu indah. Hidangan berbuka yang telah tersaji tak sabar rasanya untuk segera kita santap. Ada banyak hal yang harus diperhatikan selagi berbuka puasa. Pastikan kamu tidak makan terlalu kenyang, mendahulukan menu yang tidak membuat pencernaan ‘kaget’, sehingga tidak mengganggu ibadah malam kita. Misalnya lagi, mana yang harus didahulukan: makan atau salat maghrib—apalagi salat maghrib waktunya sangat terbatas. Untungnya, Rasulullah SAW sebagai tauladan terbaik (uswatun hasanah) telah mencontohkan beberapa adab berbuka puasa. Antara lain:

kurma

-Menyegerakan berbuka puasa

Ada banyak riwayat yang menyebutkan anjuran Rasulullah untuk menyegerakan berbuka puasa. Dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah Saw bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.” (HR Bukhari). Ada lagi hadits lain menyebutkan, Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah Saw bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Abu Dawud). Tidak menunggu bintang yang dimaksud dalam hadits ini adalah berbuka puasa begitu matahari terbenam (penanda waktu maghrib karena ketika itu belum ada jam), bukan ketika hari sudah benar-benar malam hingga telah tampak bintang di langit.

Hikmah sunnah ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umatNya yang telah seharian tidak makan dan minum. Allah SWT pencipta sekalian manusia memahami batasan-batasan fisik manusia dan tidak ingin umatNya kelaparan-kehausan lebih lama lagi.

-Mendahulukan berbuka daripada salat maghrib

Sering kita bingung antara mendahulukan makan atau salat maghrib, karena maghrib waktunya amat singkat. Sedangkan kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk makan, apalagi setelah seharian berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Darda’ RA: “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR At Thabrani). Meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat maksudnya sikap tangan selepas takbiratul ihram hingga menjelang rukuk.

Jika makanan belum terhidang, maka sebaiknya kita hanya membatalkan puasa kemudian salat. Namun jika makanan telah terhidang begitu adzan berkumandang, maka makruh hukumnya meninggalkan hidangan untuk salat. Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim). Dua hadits ini menegaskan pentingnya mendahulukan makan daripada salat, dengan catatan makanan telah terhidang di depan mata. Dalam makan pun, makanlah dengan tenang dan jangan terburu-buru karena belum salat. Secara medis, makan yang tergesa-gesa memang tidak baik untuk kesehatan pencernaan. Selain membuat perut menjadi ‘kaget’, kenikmatan makanan secara psikologis pun akan jauh berkurang.

-Berbuka dengan kurma dan air

Dari Anas RA, katanya: “Bahwa Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji rutab (kurma basah) sebelum salat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji thamar (kurma kering), dan sekiranya tiada thamar, maka Baginda minum beberapa teguk air.” (HR. Imam Ahamd dan Tirmizi). Kurma adalah buah yang paling mudah ditemui di Jazirah Arab pada masa itu. Namun secara medis, manfaat kurma sebagai menu pembuka puasa adalah buah ini tinggi glukosa yang dapat menyuntikkan energi ke tubuh seketika. Selain itu juga penting untuk tidak langsung makan berat dan mendahulukan meminum air untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.

sotr

Hukum Sahur on The Road

Published in Faith
by Hafsyah

Bulan Ramadhan bulannya orang berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satunya adalah sahur on the road (SOTR). SOTR adalah kegiatan sosial berupa membagikan makanan sahur di beberapa titik kepada mereka yang membutuhkan agar orang-orang ini dapat menjalankan sunnah Rasulullah SAW dalam puasa, yaitu makan sahur. Biasanya titik konsentrasi kegiatan SOTR adalah panti asuhan, kantor kepolisian, pemadam kebakaran, masjid, hingga tempat berkumpul pengemis dan anak jalanan.

Sahur on The Roadr o

Namun sayangnya kegiatan SOTR menuai stigma negatif seiring perkembangan pelaksanaannya. Rombongan pelaku SOTR mengemudi ugal-ugalan, menutup jalan seenaknya demi kelancaran perjalanan rombongan pribadi, melanggar rambu lalu-lintas, hingga membawa berbagai bendera dan atribut yang meresahkan masyarakat. Apa hukum sahur on the road menurut Islam?

Sebagaimana hadits yang berbunyi, Dari Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim). Jika kita telaah, niat SOTR sudah cukup baik, yaitu membantu orang-orang yang kurang mampu agar tetap dapat menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Ada juga yang melakukannya sebagai wujud apresiasi terhadap pihak-pihak yang biasa kita abaikan jasanya padahal mereka juga bekerja keras selama puasa seperti petugas kepolisian dan pemadam kebakaran.

Sehingga amat disayangkan pelaksanaannya justru banyak mengandung hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Padahal sebagaimana hadits dari Abu Hurairah RA , Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmizi). Mari kita telaah lagi elemen-elemen pelaksanaan SOTR yang justru bertentangan dengan niat baik di awal, dan kita tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Misalnya membawa berbagai bendera dan atribut yang meresahkan masyarakat. Hal ini dilakukan guna menunjukkan identitas pelaku SOTR, namun jika kita melakukan sebuah kebaikan sambil menonjolkan identitas kita agar diketahui orang, bagaimana dengan keikhlasan amal kita? Bukankah Islam mengajarkan kita agar merahasiakan sedekah? Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, ”Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …(dan disebutkan salah satu dari mereka)… yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari & Muslim). Sedemikian kuatnya anjuran merahasiakan ibadah ini, hingga secara hiperbolis, jarak sedekat tangan kanan dan kiri pun tidak boleh mengetahuinya.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.

Selain itu, banyak elemen pelaksanaan SOTR yang merugikan orang lain. Misalnya menutup jalan seenaknya yang menyebabkan kemacetan lalu-lintas, dan menghambat atau mempersulit orang-orang dari melaksanakan urusannya. Sedangkan Islam amat menjunjung tinggi sikap tolong-menolong, yang bertolak belakang dengan hal ini. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah…” (HR. Thabrani). Untuk itu, boleh saja kita melakukan SOTR selama diawali dengan niat baik dan dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Semoga Allah menyertai langkah kita dan menetapkan kita di jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin…

tarawih

Berapa Jumlah Rakaat Tarawih yang Benar?

Published in Faith
by Hafsyah

Salat tarawih sangat identik dengan Ramadhan, karena memang hanya di bulan suci ini kita bertemu dengan Tarawih. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah berapakah rakaat Salat Tarawih seharusnya? 11 atau 23 rakaat?

tarawih

Pertama-tama, yang perlu dijelaskan adalah bahwa Salat tarawih merupakan qiyamul lail (salat malam) yang merupakan satu ‘kategori’ dengan Salat Tahajud, Salat Istikharah, dan lain-lain. Dalam berbagai riwayat, tidak ditemukan keterangan yang menyebut Salat Tarawih secara harfiah, melainkan qiyamul lail di bulan Ramadhan, sebagaimana tercantum dalam hadits dari Abu Dzar RA:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

“Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” [HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain]

Dan dari Abudrrahman bin Auf RA:

قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.(HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abdur Razzaq meriwayatkannya dari Abu Hurairah.)

Lalu bagaimanakah Rasulullah SAW melakukan Salat Tarawih? Rasulullah SAW Salat Tarawih sejumlah 11 rakaat, dengan pembagian dua rakaat atau empat rakaat. Aisyah Radhiyallahu anhuma ditanya: “Bagaimana shalat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pemah menambah -di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 raka’at. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 3 raka’at.” [HR Bukhari] Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Adalah Rasulullah melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat Isya’, hingga waktu fajar, sebanyak 11 raka’at, mengucapkan salam pada setiap dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu raka’at.” [HR Muslim].

Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab,

مَشْنَى مَشْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِِرْ بِوَا حِدَةِ

“Yaitu dua raka’at-dua raka’at, maka apabila kamu khawatir (masuk waktu) shubuh, berwitirlah dengan satu raka’at. [HR Bukhari]

Lalu bagaimana munculnya Salat Tarawih 23 rakaat? Salat Tarawih 23 rakaat mulai dilaksanakan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan salat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap rakaat. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu rakaat begitu lama. Akhirnya, Umar memiliki inisiatif agar salat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga rakaat. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti rakaat yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Maka, melaksanakan Tarawih 23 rakaat pun tidak salah karena perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul. SNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang

Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan. Wallahu ‘alam.

ramadhan2

Sunnah-Sunnah Bulan Ramadhan

Published in Faith
by Hafsyah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Allah SWT melipatgandakan berbagai pahala atas amalan-amalan wajib dan sunnah. Selain puasa yang wajib di bulan Ramadhan, ada banyak amalan-amalan sunnah dengan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Apa sajakah sunnah-sunnah di bulan Ramadhan?

ramadhan2

1. Salat Tarawih

Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)

Qiyam Ramadhan yang dimaksud di sini adalah salat tarawih. Rasulullah SAW juga pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu Beliau bersabda, Siapa yang salat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An-Nasai)

2. Sahur

Salah satu cobaan bulan Ramadhan adalah bangun sahur. Ketika kita sedang tertidur lelap, kita harus bangun melawan kantuk dan makan. Bagi sebagian orang, ini amat sulit dilakukan karena sebagian orang tidak terbiasa langsung makan begitu bangun tidur. Namun, Rasulullah SAW menekankan pentingnya sahur, walau hanya dengan seteguk air. Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR Ibnu Syaibah dan Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Ahmad & An-Nasai)

Dalam sahur, disunnahkan bagi kita untuk mengakhirkan waktu sahur. Dari Sahl bin Sa’d RA: Saya pernah makan sahur bersama keluarga saya, kemudian saya bersegera untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari). Kemudian dari Za’id bin Tsabit RA: “Kami makan sahur bersama Nabi SAW kemudian Beliau berdiri untuk salat subuh. Anas bin Malik bertanya kepadanya, berapa jarak antara adzan dengan sahur? Zaid bin Tsabit RA menjawab, kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Menyegerakan berbuka

Ketika adzan maghrib berkumandang, disunnahkan bagi kita untuk menyegerakan berbuka puasa. Bahkan mendahulukan berbuka puasa daripada salat maghrib. Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

4. Memberi makanan buka puasa

Salah satu sunnah lain di bulan Ramadhan adalah memberi makan bagi orang berpuasa. Hikmah sunnah ini adalah untuk menumbuhkan jiwa sosial dan kedermawanan umat Islam. Dari Yazid bin Khalid Al Juhanniy RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa memberi makanan untuk orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (H.R Turmudzi)

Dari Anas RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW datang ke tempat Sa’ad bin Ubadah RA. kemudian ia menghidangkan roti dan mentega, maka Beliau pun memakannya serta bersabda: “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik serta malaikat mendoakan kamu.” (H.R Abu Dawud)

cara

Tata Cara Sujud Sahwi

Published in Faith
by Hafsyah

Jika kamu kekurangan atau kelebihan rakaat dan gerakan salat, lakukanlah sujud sahwi. Berikut tata cara sujud sahwi.

cara

Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat –sebelum atau sesudah salam-. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits ‘Abdullah bin Buhainah,

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Contoh cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Imron bin Hushain,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)

Adapan bacaan selama sujud, tidak diriwayatkan oleh Rasulullah SAW, namun sebagian ulama merumuskan bacaannya,

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa).

Namun dzikir sujud sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sebagian ulama berpendapat karena ketiadaan riwayat, maka bacalah bacaan seperti sujud biasa. Bahkan ada yang mengatakan untuk tidak perlu membaca apa-apa. Wallahu’alam.

lupa

Bagaimana Jika Lupa Rakaat Sholat?

Published in Faith
by Hafsyah

Pernahkah kamu mengalami lupa atau ragu jumlah rakaat dalam salat? Jika ya, jangan sedih jangan khawatir. Kamu tidak perlu mengulang salat kamu. Cukup lakukan sujud sahwi, yaitu sujud yang dilakukan untuk menyempurnakan lupa dalam salat.

lupa

Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian ragu di dalam salatnya sehingga ia tak tahu lagi apakah ia sudah melakukan salat sebanyak tiga rakaat atau empat rakaat, hendaklah dibuangnya keraguan itu dan yang ia yakini, kemudian hendaknya ia sujud sebanyak dua kali sebelum melakukan salam. Sekiranya ia telah melakukan salat 5 Rakaat, bererti solatnya telah digenapkan dengan sujud sahwinya itu. Dan sekiranya ia salat tepat empat rakaat, dua sujud itu menghinakan bagi setan.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Adapun sujud sahwi dilakukan jika:

1. Kelebihan (al-Ziyadah) misalnya kelebihan rakaat, sujud, dan lain-lain.

  • Jika terdapat kelebihan dalam shalat –seperti terdapat penambahan satu raka’aat-, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sesudah salam. Karena sujud sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
  • Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan raka’at, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan raka’at tadi. Pada saat ini, sujud sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.
  • Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia sujud sahwi sesudah salam untuk menghinakan setan.

2. Kekurangan (Naqs). Misalnya seseorang kurang dalam melaksanakan rukun atau hal yang wajib dalam solat.

Jika terdapat kekurangan pada shalat –seperti kekurangan tasyahud awwal-, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja dengan sujud sahwi sebelum salam untuk menyempurnakan shalat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.

3. Ragu-ragu (Shak). Misalnya hingga akhir sholat kita tetap belum yakin akan kekurangan atau kelebihan tersebut.

Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima raka’at. Jika ternyata shalatnya benar lima raka’at, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam raka’at, bukan lima raka’at. Pada saat ini sujud sahwinya adalah sebelum salam karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.

Sumber : https://rumaysho.com/1065-panduan-sujud-sahwi-2-tata-cara-sujud-sahwi.html

 

utang puasa

Jika Hutang Puasa Tahun Lalu Belum Dibayar

Published in Faith
by Hafsyah

Maha Pemurah lagi Maha Pengampun Allah SWT memberikan keringanan bagi umatNya yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit atau perjalanan dan sebab lainnya untuk tidak berpuasa. Namun kita wajib membayar hutang puasa itu dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang Ramadhan berikutnya. Sebagaimana dalam riwayat Aisyah RA,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Hadits ini menunjukkan bahwa hutang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadhan). Aisyah membayar hutang puasanya di akhir waktu karena selalu sibuk melayani Rasulullah SAW. Sedangkan Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban, sehingga Aisyah dapat berpuasa tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri. Aisyah RA berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Namun bagaimana jika hutang puasa (qadha) kita tertunda hingga bulan Ramadhan berikutnya? Hal ini dilihat lagi dari alasan tertundanya qadha tersebut.

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga hutang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk Ramadhan berikutnya.

Jawaban yang beliau sampaikan,

ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnya hingga datang Ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari hutang puasanya.

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:

  1. Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati Ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
  2. Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk Ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
  3. Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?

Bagian ini diperselisihkan mayoritas ulama.

Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.

As-Syaukani menjelaskan,

وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًا”: استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم: ابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Sabda Nabi SAW, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadits ini dan hadits semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha Ramadhan, hingga masuk Ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.

At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,

وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)

Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.

Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,

هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi SAW) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).