0 %

bulan suci ramadhan / TAG ARCHIVES

tarawih

Hadits Palsu Pahala Salat Tarawih?

Published in Faith
by Hafsyah

Salat Tarawih adalah salat malam yang dilakukan hanya selama bulan Ramadhan. Hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dikuatkan) yang mendekati wajib karena kekhasannya dengan bulan Ramadhan. Kata Tarawih berasal dari bentuk tunggal tarwihah yang berarti duduk sesaat untuk istirahat. Sebab salat ini dilaksanakan malam hari, setelah beristirahat sejenak dari salat Isya. Salah satu riwayat keutamaan salat Tarawih yang populer di bulan Ramadhan 2016 adalah rangkaian pahalanya dari malam pertama hingga malam ketiga puluh.

tarawih

Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang keutamaan Tarawih di bulan Ramadhan lalu Beliau berkata: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya. Di Malam Ke-2 : Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman. Di Malam Ke-3 : Malaikat memanggil dari bawah arsy ; mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu. Di Malam Ke-4 : Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (al Qur’an). Di malam Ke-5 : Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsha. Di Malam Ke-6 : Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi baitul makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya. Di Malam Ke-7 : Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman. Di Malam Ke-8 : Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim as. Di Malam Ke-9 : Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi saw. Di Malam Ke-10 : Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat. Di Malam Ke-11 : Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya. Di Malam Ke-12 : Pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama. Di Malam Ke-13 : Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan. Di Malam Ke-14 : Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat. Di Malam Ke-15 : Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya. Di Malam Ke-16 : Allah swt menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga. Di MalamKe-17 : Diberikan pahala seperti pahala para Nabi. Di Malam Ke-18 : Para malaikat memanggil Wahai Abdullah,”Sesungguhnya Allah telah meredhoimu dan meredhoi kedua orang tuamu.’ Di Malam Ke-19 : Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus. Di Malam Ke-20 : Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh. Di Malam Ke-21 : Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga. Di Malam Ke-22 : Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan. Di Malam Ke-23 : Allah membangun baginya sebuah kota di surga. Di Malam Ke-24 : Dikatakan kepadanya,”Ada 24 doa yang dikabulkan.’ Di Malam Ke-25 : Allah mengangkat siksa kubur darinya. Di Malam Ke-26 : Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama. Di Malam Ke-27 : Pada hari kiamat ia akan melintasi shirothul mustaqim bagai kilat yang menyambar. Di Malam Ke-28 : Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga. Di Malam Ke-29 : Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima. Di Malam Ke-30 : Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air salsabila.”

Namun para ahli hadits meragukan keshahihan hadits ini, karena rangkaian pahala yang terdengar berlebihan, sekalipun ini adalah bulan Ramadhan, bulan berlipatgandanya pahala.

Beberapa ciri-ciri hadits palsu menurut para ahlli adalah:

1. Kelebihan yang disebutkan menyamai atau melebihi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

2. Kelebihan yang disebutkan tidak sepadan dengan amalan yang dilakukan.

3. Redaksi kata-katanya berbeda dengan lafaz dan susunan kata hadits-hadits shahih yang keluar dari mulut Rasulullah SAW.

4. Hadits ini diawali dengan ‘Ya Ali’, sedangkan para ulama sepakat hanya tiga hadits shahih yang dimulai dengan awalan ini, dan hadits tarawih ini bulan salah satunya.

Al Lajnah ad Daimah menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak memiliki landasan dan termasuk dalam hadits-hadits dusta terhadap Rasulullah SAW. (al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ No. 8050). Wallahu ‘alam bishawab.

kurma

Sunnah Rasulullah SAW Berbuka Puasa

Published in Faith
by Hafsyah

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, waktu berbuka yang dinanti-nanti terasa begitu indah. Hidangan berbuka yang telah tersaji tak sabar rasanya untuk segera kita santap. Ada banyak hal yang harus diperhatikan selagi berbuka puasa. Pastikan kamu tidak makan terlalu kenyang, mendahulukan menu yang tidak membuat pencernaan ‘kaget’, sehingga tidak mengganggu ibadah malam kita. Misalnya lagi, mana yang harus didahulukan: makan atau salat maghrib—apalagi salat maghrib waktunya sangat terbatas. Untungnya, Rasulullah SAW sebagai tauladan terbaik (uswatun hasanah) telah mencontohkan beberapa adab berbuka puasa. Antara lain:

kurma

-Menyegerakan berbuka puasa

Ada banyak riwayat yang menyebutkan anjuran Rasulullah untuk menyegerakan berbuka puasa. Dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah Saw bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.” (HR Bukhari). Ada lagi hadits lain menyebutkan, Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah Saw bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Abu Dawud). Tidak menunggu bintang yang dimaksud dalam hadits ini adalah berbuka puasa begitu matahari terbenam (penanda waktu maghrib karena ketika itu belum ada jam), bukan ketika hari sudah benar-benar malam hingga telah tampak bintang di langit.

Hikmah sunnah ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umatNya yang telah seharian tidak makan dan minum. Allah SWT pencipta sekalian manusia memahami batasan-batasan fisik manusia dan tidak ingin umatNya kelaparan-kehausan lebih lama lagi.

-Mendahulukan berbuka daripada salat maghrib

Sering kita bingung antara mendahulukan makan atau salat maghrib, karena maghrib waktunya amat singkat. Sedangkan kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk makan, apalagi setelah seharian berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Darda’ RA: “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR At Thabrani). Meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam salat maksudnya sikap tangan selepas takbiratul ihram hingga menjelang rukuk.

Jika makanan belum terhidang, maka sebaiknya kita hanya membatalkan puasa kemudian salat. Namun jika makanan telah terhidang begitu adzan berkumandang, maka makruh hukumnya meninggalkan hidangan untuk salat. Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim). Dua hadits ini menegaskan pentingnya mendahulukan makan daripada salat, dengan catatan makanan telah terhidang di depan mata. Dalam makan pun, makanlah dengan tenang dan jangan terburu-buru karena belum salat. Secara medis, makan yang tergesa-gesa memang tidak baik untuk kesehatan pencernaan. Selain membuat perut menjadi ‘kaget’, kenikmatan makanan secara psikologis pun akan jauh berkurang.

-Berbuka dengan kurma dan air

Dari Anas RA, katanya: “Bahwa Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji rutab (kurma basah) sebelum salat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji thamar (kurma kering), dan sekiranya tiada thamar, maka Baginda minum beberapa teguk air.” (HR. Imam Ahamd dan Tirmizi). Kurma adalah buah yang paling mudah ditemui di Jazirah Arab pada masa itu. Namun secara medis, manfaat kurma sebagai menu pembuka puasa adalah buah ini tinggi glukosa yang dapat menyuntikkan energi ke tubuh seketika. Selain itu juga penting untuk tidak langsung makan berat dan mendahulukan meminum air untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.

adzan

Bolehkah Makan Sesudah Imsak?

Published in Faith
by Hafsyah

Sering terjadi kita terlambat bangun sahur dan satu lain hal, sehingga tanpa kita sadari telah masuk waktu imsak. Bolehkah kita masih makan dan minum sahur walau sudah memasuki waktu imsak? Apa hukumnya makan-minum sahur sesudah waktu imsak?

adzan

Imsak, secara bahasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak Subuh hingga Maghrib. Namun di Indonesia dewasa ini berkembang anggapan waktu imsak adalah saat ketika harus mulai berpuasa dengan menghentikan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat. Karena sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 187, “Makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu terbit fajar.” Hal ini diperkuat lagi oleh riwayat Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, “Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR. Abu Daud).

Namun adzan yang dimaksud dalam riwayat ini bukanlah adzan Subuh yang kita ketahui sekarang. Pada zaman Rasulullah SAW adzan berkumandang dua kali yaitu oleh Bilal untuk membangunkan umat Islam salat malam, dan oleh Ibnu Ummi Maktum yang merupakan adzan salat Subuh. Dalam hadits dari Ibnu Umar dan A’isyah RA bahwa, “Bilal biasanya beradzan di malam hari. Lalu, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan, karena tidaklah dia mengumandangkan adzan kecuali setelah terbit fajar.” (HR Bukhari & Muslim)

Sedangkan waktu imsak yang kita kenal dewasa ini adalah sekadar pertanda menjelang waktu Subuh. Biasanya berkisar antara 10-15 menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Kita masih boleh makan dan minum walaupun sudah memasuki waktu imsak. Namun alangkah baiknya jika kita telah bersiap-siap untuk menyudahi makan dan minum kita demi sahnya puasa, sekaligus supaya dapat menyegerakan salat Subuh tanpa terburu-buru.

ramadhan2

Sunnah-Sunnah Bulan Ramadhan

Published in Faith
by Hafsyah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Allah SWT melipatgandakan berbagai pahala atas amalan-amalan wajib dan sunnah. Selain puasa yang wajib di bulan Ramadhan, ada banyak amalan-amalan sunnah dengan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Apa sajakah sunnah-sunnah di bulan Ramadhan?

ramadhan2

1. Salat Tarawih

Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)

Qiyam Ramadhan yang dimaksud di sini adalah salat tarawih. Rasulullah SAW juga pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu Beliau bersabda, Siapa yang salat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An-Nasai)

2. Sahur

Salah satu cobaan bulan Ramadhan adalah bangun sahur. Ketika kita sedang tertidur lelap, kita harus bangun melawan kantuk dan makan. Bagi sebagian orang, ini amat sulit dilakukan karena sebagian orang tidak terbiasa langsung makan begitu bangun tidur. Namun, Rasulullah SAW menekankan pentingnya sahur, walau hanya dengan seteguk air. Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR Ibnu Syaibah dan Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Ahmad & An-Nasai)

Dalam sahur, disunnahkan bagi kita untuk mengakhirkan waktu sahur. Dari Sahl bin Sa’d RA: Saya pernah makan sahur bersama keluarga saya, kemudian saya bersegera untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari). Kemudian dari Za’id bin Tsabit RA: “Kami makan sahur bersama Nabi SAW kemudian Beliau berdiri untuk salat subuh. Anas bin Malik bertanya kepadanya, berapa jarak antara adzan dengan sahur? Zaid bin Tsabit RA menjawab, kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Menyegerakan berbuka

Ketika adzan maghrib berkumandang, disunnahkan bagi kita untuk menyegerakan berbuka puasa. Bahkan mendahulukan berbuka puasa daripada salat maghrib. Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dari Anas bin Malik r.a.: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka makanlah sebelum kamu menunaikan salat maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan salat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gopoh hingga dia selesai.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

4. Memberi makanan buka puasa

Salah satu sunnah lain di bulan Ramadhan adalah memberi makan bagi orang berpuasa. Hikmah sunnah ini adalah untuk menumbuhkan jiwa sosial dan kedermawanan umat Islam. Dari Yazid bin Khalid Al Juhanniy RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa memberi makanan untuk orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (H.R Turmudzi)

Dari Anas RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW datang ke tempat Sa’ad bin Ubadah RA. kemudian ia menghidangkan roti dan mentega, maka Beliau pun memakannya serta bersabda: “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik serta malaikat mendoakan kamu.” (H.R Abu Dawud)

lemes

Tips Agar Tidak Lemas Saat Puasa

Published in Featured
by Hafsyah

Salah satu keluhan umum orang yang berpuasa adalah rasa lemas sepanjang hari. Hal ini bisa jadi merepotkan, karena aktivitas kita harus tetap berjalan seperti biasa selama puasa seperti bekerja, kuliah, atau bersekolah. Jangan khawatir, sebab lemas harusnya tidak terjadi saat berpuasa. Apa saja yang perlu diperhatikan agar tidak lemas saat puasa?

lemes

  1. Berbuka puasa

    Menjelang berbuka puasa biasanya kita sudah menyiapkan semua makanan di meja. Mulai dari takjil, gorengan, camilan, hingga makanan berat. Dalam berbuka puasa, sebaiknya urutkan menu yang akan dimakan mulai dari makanan manis yang mudah diserap tubuh sehingga dapat mengembalikan energi secara cepat seperti kurma, air kelapa, susu, atau jus. Pastikan menghindari makanan manis yang mengandung banyak gula pasir atau pemanis buatan (misalnya gula diet) seperti aspartam. Usahakan rasa manis yang kamu konsumsi adalah manis alami, atau gula aren, atau madu. Pisang bisa jadi pilihan mudah untuk memenuhi rasa manis dan kenyang secara cepat karena kaya magnesium, kalium, dan karbohidrat. Hindari minuman dingin agar perut tidak kembung.

  1. Makanan utama

    Mulailah makan berat selepas salat tarawih, atau minimal 30 menit setelah berbuka. Hal ini untuk memberi waktu kepada pencernaan agar tidak bekerja terlalu berat. Makanlah seperti biasa namun hindari makanan tinggi dan kalori seperti gorengan, makanan bersantan, gulai, dan lain-lain. Pastikan juga kamu sudah meminum setidaknya 5-6 gelas air putih sejak berbuka. Bisa dibagi antara waktu berbuka, selepas tarawih, dan sebelum tidur.

  2. Sahur

    Sahur adalah momen penting selama berpuasa, karena menentukan kondisi kita selama berpuasa. Menu sahur yang kurang tepat akan membuat puasa terasa lebih berat karena kita jadi lebih cepat haus, lemas, mengantuk, dan sebagainya. Untuk itu, nikmati santap sahur dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan olahan gandum seperti oatmeal, roti gandum, pasta gandum, ubi, atau bubur kacang hijau. Kaborhidrat kompleks semacam ini lebih lama dicerna tubuh sehingga membuat kita kenyang lebih lama, gula darah lebih stabil, dan mood juga lebih terjaga. Hindari kopi, teh, makanan berlemak tinggi, karena akan memacu metabolisme sehingga kita lebih cepat haus. Sebaliknya, kurang protein dan serat juga dapat membuat metabolisme melambat sehingga kita merasa lemas seharian.

  1. Porsi makan

    Saat puasa, kita sulit mengukur porsi makan normal yang biasa kita makan. Hal ini karena terbatasnya waktu makan hanya pada sahur dan berbuka. Selain itu, sering kali kita masih merasa kenyang saat sahur akibat terlalu banyak makan ketika berbuka. Sehingga tanpa sadar hal ini mempengaruhi porsi makan sahur kita. Pastikan kamu menakar porsi makanmu dengan cukup, tidak kurang dan juga tidak lebih banyak dari biasanya.

  1. Tidur

    Tahukah kamu bahwa kebanyakan lemas dan mengantuk selama puasa bukan diakibatkan rasa lapar tapi jam tidur yang berantakan? Selepas tarawih biasanya kita masih beraktivitas ringan, hingga tidak terasa hari sudah larut malam. Namun kemudian sudah harus bangun untuk sahur dan salat subuh. Setelah itu matahari mulai terbit dan kita sudah harus segera beraktivitas. Untuk itu, seimbangkan jam tidur yang sesuai sehingga tubuh kita tetap mendapatkan istirahat yang cukup.

gg

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1437 H/2016 M

Published in Featured
by Hafsyah

Sedang menunggu waktu berbuka puasa? Mempersiapkan takjil? Atau kamu sedang mengatur persiapan salat tarawih? Yuk, lihat jadwal imsakiyah berikut dari HIJUP!

imsakiyah

lookbook

HIJUPXTENANT for Fitri Festivity

Published in Fashion, Featured
by Hafsyah

HIJUP meluncurkan koleksi Ramadhan-Lebaran 2016 yang bertajuk Spesial Ramadhan Collection. Koleksi ini memperkenalkan 7 Rising Designers, yang dipilih melalui proses penjurian ketat selama dua bulan dengan tema ‘Purity’. Proses seleksi berlangsung berlapis-lapis, mulai dari presentasi moodboard hingga fashion show di hadapan loyal cutomers dan para buyers HIJUP. Seperti apa keseruan proses penciptaan di balik koleksi istimewa ini? Simak dalam video berikut ini!

 

lookbook

shop-here-button-05

Pengajian Bersama Dian Pelangi, Diajeng lestari, dan Ust. Ahmad Muhajirillah

Published in Entertainment
by Anastasia Gretti Schender
530A8532Dalam rangka menyambut bulan ramadhan, HIJUP bersama dengan Dian Pelangi, Diajeng Lestari, dan Ust. Ahmad Muhajiril dari Dompet Dhuafa mengajak para customer HIJUP untuk hadir dalam pengajian pada hari Sabtu 30 April 2016. Acara yang berlangsung di kantor HIJUP ini berlangsung hangat dengan dihadiri hingga 100 peserta.
LQA_9330
Acara ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al- Quran dan saritilawah oleh Sururoh Tullah Adedoin Uthman. Diajeng Lestari melanjutkan acara tersebut dengan sharing mengenai bagaimana menyiapkan hati untuk lebih siap menjadi pribadi yang lebih baik dengan memaafkan orang lain. Tak hanya itu, beliau juga membahas mengenai manajemen emosi, dan menyiapkan jasmani untuk bisa terus produktif dan berkarya selama bulan suci ramadhan.
530A8478
Sebagai muslim fashion designer, Dian Pelangi juga berbagi cerita mengenai bulan suci ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, terutama untuk label Dian Pelangi yang akan mengeluarkan raya collection dan hanya tersedia di HIJUP. Dian Pelangi juga berbagi tips selama bulan suci ramadhan seperti menjaga pola dan menu makanan serta rutin melakukan olahraga demi menjaga kesehatan tubuh. Dian Pelangi juga menyampaikan meski tidur di bulan suci ramadhan merupakan ibadah, namun alangkah lebih baiknya untuk tetap bisa produktif.
530A8436
Acara pengajian ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Muhajiril dari Dompet Dhuafa. Acara ini tak selesai sampai disitu, HIJUP juga mengadakan games bagi seluruh peserta yang datang dengan memberikan bingkisan menarik.