0 %

Faith / CATEGORY ARCHIVES

cara

Tata Cara Sujud Sahwi

Published in Faith
by Hafsyah

Jika kamu kekurangan atau kelebihan rakaat dan gerakan salat, lakukanlah sujud sahwi. Berikut tata cara sujud sahwi.

cara

Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat –sebelum atau sesudah salam-. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits ‘Abdullah bin Buhainah,

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Contoh cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Imron bin Hushain,

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)

Adapan bacaan selama sujud, tidak diriwayatkan oleh Rasulullah SAW, namun sebagian ulama merumuskan bacaannya,

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa).

Namun dzikir sujud sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sebagian ulama berpendapat karena ketiadaan riwayat, maka bacalah bacaan seperti sujud biasa. Bahkan ada yang mengatakan untuk tidak perlu membaca apa-apa. Wallahu’alam.

lupa

Bagaimana Jika Lupa Rakaat Sholat?

Published in Faith
by Hafsyah

Pernahkah kamu mengalami lupa atau ragu jumlah rakaat dalam salat? Jika ya, jangan sedih jangan khawatir. Kamu tidak perlu mengulang salat kamu. Cukup lakukan sujud sahwi, yaitu sujud yang dilakukan untuk menyempurnakan lupa dalam salat.

lupa

Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian ragu di dalam salatnya sehingga ia tak tahu lagi apakah ia sudah melakukan salat sebanyak tiga rakaat atau empat rakaat, hendaklah dibuangnya keraguan itu dan yang ia yakini, kemudian hendaknya ia sujud sebanyak dua kali sebelum melakukan salam. Sekiranya ia telah melakukan salat 5 Rakaat, bererti solatnya telah digenapkan dengan sujud sahwinya itu. Dan sekiranya ia salat tepat empat rakaat, dua sujud itu menghinakan bagi setan.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Adapun sujud sahwi dilakukan jika:

1. Kelebihan (al-Ziyadah) misalnya kelebihan rakaat, sujud, dan lain-lain.

  • Jika terdapat kelebihan dalam shalat –seperti terdapat penambahan satu raka’aat-, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sesudah salam. Karena sujud sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
  • Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan raka’at, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan raka’at tadi. Pada saat ini, sujud sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.
  • Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia sujud sahwi sesudah salam untuk menghinakan setan.

2. Kekurangan (Naqs). Misalnya seseorang kurang dalam melaksanakan rukun atau hal yang wajib dalam solat.

Jika terdapat kekurangan pada shalat –seperti kekurangan tasyahud awwal-, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja dengan sujud sahwi sebelum salam untuk menyempurnakan shalat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.

3. Ragu-ragu (Shak). Misalnya hingga akhir sholat kita tetap belum yakin akan kekurangan atau kelebihan tersebut.

Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima raka’at. Jika ternyata shalatnya benar lima raka’at, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam raka’at, bukan lima raka’at. Pada saat ini sujud sahwinya adalah sebelum salam karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.

Sumber : https://rumaysho.com/1065-panduan-sujud-sahwi-2-tata-cara-sujud-sahwi.html

 

utang puasa

Jika Hutang Puasa Tahun Lalu Belum Dibayar

Published in Faith
by Hafsyah

Maha Pemurah lagi Maha Pengampun Allah SWT memberikan keringanan bagi umatNya yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit atau perjalanan dan sebab lainnya untuk tidak berpuasa. Namun kita wajib membayar hutang puasa itu dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang Ramadhan berikutnya. Sebagaimana dalam riwayat Aisyah RA,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)

Hadits ini menunjukkan bahwa hutang puasa harus dibayar selambat-lambatnya di bulan Sya’ban (bulan ke-8, sedangkan bulan ke-9 adalah Ramadhan). Aisyah membayar hutang puasanya di akhir waktu karena selalu sibuk melayani Rasulullah SAW. Sedangkan Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban, sehingga Aisyah dapat berpuasa tanpa menghalangi kewajibannya sebagai istri. Aisyah RA berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Namun bagaimana jika hutang puasa (qadha) kita tertunda hingga bulan Ramadhan berikutnya? Hal ini dilihat lagi dari alasan tertundanya qadha tersebut.

Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga hutang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk Ramadhan berikutnya.

Jawaban yang beliau sampaikan,

ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم

Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnya hingga datang Ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari hutang puasanya.

Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:

  1. Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati Ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
  2. Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk Ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
  3. Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?

Bagian ini diperselisihkan mayoritas ulama.

Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.

As-Syaukani menjelaskan,

وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًا”: استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم: ابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Sabda Nabi SAW, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadits ini dan hadits semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha Ramadhan, hingga masuk Ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.

At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,

وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)

Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan fidyah sama sekali, dan hanya menyebutkan qadha.

Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,

هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع

Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi SAW) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327).

Hadits - sholawatdotco

Awas Hadits Dhoif!

Published in Faith
by Hafsyah

Sebagai umat Islam, salah satu pedoman hidup kita selain Alquran adalah hadits. Namun umat Muslim harus berrhati-hati akan hadits-hadits yang belum tentu jelas atau diragukan kebenarannya. Hadits-hadits ini disebut dengan hadits dhoif (lemah). Seperti apakah hadits dhoif?

Definisi hadits dhaif menurut Imam Al-Baiquni adalah, “Setiap hadits yang tingkatannya berada dibawah hadits hasan (tidak memenuhi syarat sebagai hadis shahih maupun hasan) maka disebut hadits dho’if dan hadits (seperti) ini banyak sekali ragamnya.

Klasifikasi lemah-kuatnya suatu hadits, terbagi ke dalam berbagai tingkatan derajat. Mulai dari lemah ringan hingga palsu. Ibnu Hibban telah membagi hadits dhaif menjadi 49 jenis. Namun beberapa yang paling umum terjadi adalah:

  • Mudallas: Seseorang yang meriwayatkan dari rawi fulan sementara hadits tersebut tidak didengarnya langsung dari rawi fulan tersebut, namun ia tutupi hal ini sehingga terkesan seolah ia mendengarnya langsung dari rawi fulan. Hadits mudallas ada dua macam, yaitu Tadlis Isnad (menyembunyikan sanad) dan tadlis Syuyukh (menyembunyikan personal).
  • Mu’an’an: Hadits yang dalam sanadnya menggunakan lafal fulan ‘an fulan (riwayat seseorang dari seseorang).
  • Munkar: Hadits yang diriwayatkan oleh perawi kategori lemah yang menyelisihi periwayatan rawi-rawi yang tsiqah (terpercaya).
  • Matruk: Hadtis yang di dalam sanadnya ada perawi yang tertuduh berdusta.
  • Maudhu’(Hadits palsu): Hadits yang dipalsukan atas nama Nabi, di dalam rawinya ada rawi yang diketahui sering melakukan kedustaan dan pemalsuan.
  • Bathil: Sejenis hadits palsu yang (jelas-jelas) menyelisihi prinsip-prinsip syariah.
  • Mudraj: Perkataan yang diucapkan oleh selain Nabi yang ditulis bergandengan dengan hadits Nabi. Sehingga dapat dikira sebagai bagian dari hadits. Umumnya berasal dari perawi hadisnya, baik itu sahabat ataupun yang di bawahnya, diucapkan untuk menafsirkan, menjelaskan atau melengkapi maksud kata tertentu dalam lafal hadits.

Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari (Imam Al Bukhari) dan sahabat sekaligus muridnya, Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi (Imam Muslim) adalah dua perawi hadits yang paling populer dan terpercaya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadits yang paling shahih, namun Shahih Bukhari lebih utama. Pasalnya, Imam Bukhari hanya memasukan hadits-hadits dalam kitab Shahih-nya yang memiliki syarat sebagai berikut:

  1. Perawi hadits sezaman dengan guru yang menyampaikan hadits kepadanya
  2. Informasi bahwa si perawi benar-benar mendengar hadits dari gurunya harus valid

Sedangkan Imam Muslim tidak mensyaratkan syarat yang kedua, yang penting perawi dan gurunya sezaman, itu sudah dianggap cukup. Namun seiring perkembangan teknologi, begitu mudahnya seseorang menempelkan ‘HR. Bukhari’ atau ‘HR. Muslim’ di setiap akhir sebuah hadits yang belum jelas keasliannya. Untuk itu alangkah baiknya kita lebih cermat dan teliti sebelum mempercayai suatu hadits.

jumat

Sunnah-Sunnah Hari Jumat

Published in Faith
by Hafsyah

Jumat adalah hari raya bagi umat Islam. Allah Yang Maha Pemurah mencurahkan berbagai rahmat dan melipatgandakan pahala berbagai amalan di hari Jumat. Mumpung masih ada waktu di hari Jumat ini, mari kita isi dengan sunnah-sunnah hari Jumat? Apa saja sunnah-sunnah hari Jumat?
Sunnah-sunnah hari Jumat

-Memperbanyak shalawat

Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi)

-Membaca Surat Al-Kahfi

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Hakim)

-Memperbanyak Doa

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW membicarakan hari Jumat lalu ia bersabda,“’Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.’ Lalu Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim).

Interpretasi ulama terpecah hingga 42 pendapat, namun ada 4 pendapat yang paling umum:

Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jumat, berdasarkan hadits, Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jumat selesai.” (HR. Muslim). Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.

Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:

Dalam 12 jam hari Jumat ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar.” (HR. Abu Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.

Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jumat. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.

Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.

Benarkah ‘Sunnah Rasul’ Malam Jumat?

Published in Faith
by Hafsyah

Kita lazim mendengar istilah ‘sunnah Rasul’ di malam Jumat untuk menyebut hubungan intim suami-istri. Namun benarkah ada sunnah hubungan intim yang dicontohkan Rasulullah pada Kamis malam?

Salah kaprah ini kemungkinkan besar berangkat dari riwayat, “Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Imam An-Nawawi dan Syekh Al-Albani)

Sebagian ulama mengatakan, “Kami belum pernah mendengar satu hadis sahih dalam syariat yang memuat pahala yang sangat banyak selain hadis ini.” Karena itu, sangat dianjurkan untuk melakukan semua amalan di atas, untuk mendapatkan pahala yang diharapkan.” (Al-Mirqah, 5:68)

Disebutkan dalam Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, bahwa ada sebagian ulama yang mengartikan kata “memandikan” dengan ‘menggauli istri’, karena ketika seorang suami melakukan hubungan intim dengan istri, berarti, dia memandikan istrinya. Dengan melakukan hal ini sebelum berangkat shalat Jumat, seorang suami akan lebih bisa menekan syahwatnya dan menahan pandangannya ketika menuju masjid. (Lihat Aunul Ma’bud, 2:8)

 

Ada ulama yang menafsirkan maksud  hadits penyebutan mandi dengan ghosala bermakna mencuci kepala, sedangkan ightasala berarti mencuci anggota badan lainnya. Demikian disebutkan dalam Tuhfatul Ahwadzi, 3: 3. Bahkan inilah makna yang lebih tepat.

Ada tafsiran lain mengenai makna mandi dalam hadits di atas. Sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, Imam Ahmad berkata, makna ghossala adalah menyetubuhi istri. Demikian ditafsirkan pula oleh Waki’. Tafsiran di atas disebutkan pula dalam Fathul Bari 2: 366 dan Tuhfatul Ahwadzi, 3: 3. Tentu hubungan intim tersebut mengharuskan untuk mandi junub.

Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa jika mandi yang dimaksud adalah sebelum berangkat Salat Jumat, maka hubungan intim yang dimaksud tidak terjadi di malam Jumat atau Kamis malam. Karena tidak mungkin seorang muslim atau muslimah menunda mandi junubnya hingga sebelum waktu Salat Jumat sehingga mereka melewatkan Salat Subuh karena belum suci.

As Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik dan beliau menguatkan hadits tersebut berkata: Apakah kalian lemas menyetubuhi istri kalian pada setiap hari Jum’at (artinya bukan di malam hari, -pen)? Karena menyetubuhi saat itu mendapat dua pahala: (1) pahala mandi Jum’at, (2) pahala menyebabkan istri mandi (karena disetubuhi). Yaitu hadits yang dimaksud dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari hadits Abu Hurairah.
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Jika seseorang meniatkan mandi junub dan mandi Jum’at sekaligus, maka maksud tersebut dibolehkan.” (Al-Majmu’, 1: 326)

Sehingga, pemahaman ‘sunnah Rasul’ di Malam Jumat ini perlu diluruskan agar tidak terjadi kekeliruan yang terus-menerus di kalangan masyarakat. Wallahu’alam.
macam macam shalat sunnah

Bolehkah Salat Dhuha Berjamaah?

Published in Faith
by Hafsyah

Sholat Dhuha itu sendiri hukumnya sunnah muakkadah, paling sedikit dua rakaat dan sebanyak-banyaknya delapan rakaat. Menurut Imam Ar-Rauyani dan Imam Ar-Rafi’i, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Dikerjakan dengan sekali salam setiap-tiap dua rakaat. Waktunya adalah sejak terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari. (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, 4/35-36).

Memang pada umumnya shalat sunnah Dhuha dianggap para ulama sebagai shalat sunnah (tathawwu’) yang tidak disunnahkan/disyariatkan berjamaah. (Imam Nawawi, Raudhah Ath-Thalibin, 1/122; As-Sayyid Al-Bakri, I’anah Ath-Thalibin, 1/272).

Namun demikian, sebagian ulama telah meneliti ulang permasalahan tersebut. Dan mereka menemukan dalil bahwa sholat Dhuha ternyata boleh dikerjakan secara berjamaah. Syaikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, misalnya, mengatakan,”Sholat Dhuha ini dapat dikerjakan secara sendirian dan dapat pula dikerjakan berjama’ah.” Beliau lalu menyebutkan dalilnya, yaitu hadis dari ‘Itban bin Malik RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Khuzaimah. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shalah, 2/399).

Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik RA tersebut, bahwa Rasulullah SAW telah melakukan sholat Dhuha (subhata adh-dhuha) di rumahnya [rumah ‘Itban bin Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan sholat beliau. (fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi). (Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bari, 4/177).

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan bahwa hadis di atas adalah hadis riwayat Imam Ahmad. Beliau juga menyatakan bahwa hadis yang semakna ini telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Ibnu Wahab bin Yunus RA. (Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bari, 4/177; HR Ahmad no 22657; Ibnu Khuzaimah no 1165).

Kitab lain yang menyatakan bolehnya sholat Dhuha berjamaah adalah kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro (2/250), berdasarkan hadis ‘A`idz bin Amr RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Thabrani. Dari ‘A`idz bin Amr RA dia berkata,”Suatu saat air sedikit, maka Rasulullah SAW pun berwudhu dengan air dalam satu gelas (qadah) atau satu mangkuk besar (jafnah). Lalu Rasulullah SAW menasehati kami karena sedikitnya air saat itu. Rasulullah SAW bersabda,’Orang yang bahagia di antara kita adalah orang yang terkena musibah, tapi dia tidak memperlihatkan itu kepada kita. Kecuali kalau musibah itu sudah menimpa semua orang dalam satu kaum.’ Kemudian Rasululullah SAW shalat Dhuha bersama-sama kami (tsumma shalla binaa rasulullah SAW adh-dhuha).” (HR Ahmad no 19721; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no 14462).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka jelaslah bahwa melaksanakan sholat sunnah Dhuha secara berjamaah adalah boleh (ja`iz) menurut syara’, dan bukan merupakan suatu bid’ah. Sebab Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan sholat sunnah Dhuha secara berjamaah dengan para sahabat. Namun yang perlu dicatat adalah untuk tidak melakukannya secara sengaja berjama’ah dan rutin menjadi sebuah kebiasaan. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari)

Hukum Memakai Behel dalam Islam

Hukum Memakai Behel Dalam Islam

Published in Faith
by Hafsyah

Hukum asalnya merubah sesuatu yang Allah ciptakan pada diri seseorang adalah dilarang, berdasarkan firman Allah “Dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya.” (QS. An-Nisa: 119). Ayat ini menjelaskan bahwa mengubah ciptaan Allah termasuk sesuatu yang haram dan merupakan bujuk rayu setan kepada anak Adam.

Hukum Memakai Behel Dalam Islam

Namun begitu, Islam memperbolehkan mengubah ciptaan Allah jika sebagai pengobatan atau menyembuhkan cacat. Sebagaimana dalam riwayat dari ‘Arjafah bin As’ad RA, “Hidungku terpotong pada Perang Kullab di masa jahiliyah. Aku pun menggantikannya dengan daun, tetapi daun itu bau sehingga menggangguku. Lalu Rasulullah SAW menyuruhku menggantinya dengan emas.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, & Abu Dawud).
Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukumnya memperbaiki gigi?” Syaikh menjawab, “Memperbaiki gigi ini dibagi menjadi dua kategori: Pertama, jika tujuannya supaya bertambah cantik atu indah, maka ini hukumnya haram. Rasulullah SAW melaknat wanita yang menata giginya agar terlihat lebih indah yang merubah ciptaan Allah.

Kedua, jika seseorang memperbaikinya karena ada cacat, tidak mengapa ia melakukannya. Sebagian orang ada suatu cacat pada giginya, mungkin pada gigi serinya atau gigi yang lain. Cacat tersebut membuat orang merasa jijik untuk melihatnya. Keadaan yang demikian ini dimaklumi untuk membenarkannya. Hal ini dikategorikan sebagai menghilangkan aib atau cacat bukan termasuk menambah kecantikan. Dasar argumentasinya (dalil), adalah hadits tentang hidung seseorang yang cacat akibat perang tersebut. Rasulullah SAW menyuruh menggantinya dengan hidung palsu dari emas, yang demikian ini termasuk menghilangkan cacat bukan dimaksudkan untuk mempercantik diri.

 

123

5 Penyakit Hati Menurut Islam

Published in Faith
by Hafsyah

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS. At Taubah: 125).

5 Penyakit Hati Dalam Islam

1. Hasad, Iri dan Dengki

Hasad atau iri adalah sifat tidak suka jika seseorang mengalami berbahagia, sedangkan dengki bukan hanya tidak senang jika seseorang berbahagia, tapi juga mendoakan keburukan agar kebahagiaan itu hilang dari orang tersebut dan berpindah pada dirinya.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nisa : 32)

“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. (HR. Abu Dawud)

  1. Sombong 

Sombong dianggap sebagai akar dari semua keburukan, karena Iblist terusir dari surga akibat sifat ini yang membuatnya tidak mau bersujud pada Adam AS. Seseorang yang sombong biasanya akan merasa dirinya lebih baik dari siapapun dan menganggap remeh orang lain. Allah amat membenci sifat sombong karena kesombongan adalah hak Allah semata sebagai pemilik langit dan bumi.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS Al Isra :37)

  1. Riya 

Riya adalah pamer atau menunjukkan amal perbuatan pada orang lain dan merasa bangga dengan hal itu. Riya sangat berbahaya dan dilarang dalam islam. Perbuatan baik atau suatu ibadah adalah urusan seorang hamba dan penciptanya, bukan untuk dibanggakan apalagi diumumkan kepada orang banyak. Sifat riya bisa menghilangkan pahala kebaikan itu sendiri sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah 264)

  1. Bakhil

Sifat bakhil atau kikir adalah salah satu penyakit hati dimana seseorang yang tidak mau memberikan sedikit hartanya pada orang yang membutuhkan sementara ia memiliki harta tersebut. Termasuk bakhil juga adalah keengganan atau rasa berat menunaikan ibadah harta seperti zakat, infaq, sedekah, dll.

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 180)

  1. Ujub

Ujub adalah suatu sifat yang suka membangga-banggakan diri atas apa yang ia miliki sementara apa yang ia miliki tersebut tidaklah ia sadari merupakan karunia Allah SWT. Sifat ujub bisa merusak hati dan cenderung membuatnya sombong. Sedangkan manusia tidak memiliki apa-apa selain titipan dan rahmat dari Allah SWT.

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Razaq)

hujan

Benarkah Doa Terkabul Ketika Hujan?

Published in Faith
by Hafsyah

Umat Muslim sepatutnya bergembira menyambut musim hujan. Karena turunnya hujan adalah salah satu waktu mustajabnya doa.

hujan

Benarkah Doa Terkabul Ketika Hujan? (Foto: Tomi Azami)

Rasulullah SAW bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : Bertemunya dua pasukan, menjelang salat dilaksanakan, dan saat hujan turun.

Bertemunya dua pasukan yang dimaksud Rasulullah SAW adalah ketika perang, sebagaimana dalam hadits, “Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud)

Sedangkan menjelang salat dilaksanakan adalah antara adzan dan iqomat. Rasulullah bersabda, “Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi)

Keterkabulan doa ketika hujan diperkuat lagi dalam hadits lain dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah SAW bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua do’a yang tidak akan ditolak: doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Baihaqi & Al-Hakim)

Apakah doa yang paling baik dipanjatkan seiring turunnya hujan? Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah RA ,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi SAW ketika melihat turunnya hujan, Beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]” (HR. Bukhari, Ahmad, & An-Nasa’i)

Oleh karena itu ayo hindari keluh-kesah dengan turunnya hujan yang barangkali menghambat aktivitas atau menunda keperluan kita. Karena Islam memuliakan waktu hujan, apalagi hujan merupakan rahmat dan karunia dari Allah SWT sebagai rezeki bagi umat manusia.

 

Hukum Alkohol dalam Kosmetik

Hukum Alkohol dalam Kosmetik

Published in Faith
by Hafsyah

Umat Islam tentunya sudah mengetahui Islam mengharamkan kita mengonsumsi makanan dan minuman beralkohol. Bagaimana dengan hukum alkohol dalam kosmetik?

Hukum Alkohol dalam Kosmetik

Ulama fiqih yang mengharamkannya mengatakan bahwa penggunaan kosmetika berbahan alkohol sama hukumnya dengan mengkonsumsi khamar karena alkohol termasuk dari definisi khamar tersebut. Hal tersebut disebabkan karena 60% dari kosmetika yang dipakai di tubuh akan diserap kulit dan masuk ke dalam pembuluh darah dan akan diserap oleh tubuh. Pendapat yang mengharamkan penggunaan kosmetika berbahan alkohol tersebut berpatukan pada hadist Rasulullah SAW, “Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya haram.” (HR. Muslim).

Sebagian ulama fiqih lainnya menghalalkan penggunaan kosmetika yang mengandung alkohol karena alkohol merupakan zat yang mudah menguap. Seperti contohnya pada parfum, setelah disemprotkan ke tubuh maka alkohol yang terkandung di dalamnya akan menguap dan yang tersisa hanyalah zat pengharumnya saja. Terlebih lagi derivat alkohol, yaitu etanol yang dipergunakan dalam kosmetik berbeda dengan yang digunakan dalam pembuatan khamar. Keduanya pun mempunyai rumus kimia yang berbeda walaupun berasal dari derivat yang sama.

Ir. Muti Arintawati Msi, Wakil Direktur Lembaga Pengawasan Pangan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) Bidang Auditing mengatakan bahwa tidak seluruh jenis alkohol diharamkan. Muti menuturkan bahwa alkohol dalam kosmetika yang diharamkan hanyalah alkohol jenis ethyl alcohol (etanol dan methylated spirit). Alkohol jenis ini banyak terdapat pada lotion aftershave ataupun parfum wanita.

Sedangkan alkohol berjenis cetyl alcohol dan cetearyl alcohol dikategorikan halal. Jenis alkohol ini berbentuk padat sehingga tak dapat diminum dan diserap oleh kulit. Jenis alkohol ini banyak digunakan pada kosmetik dan skin care. Cetearyl alcohol sejatinya bukanlah benar-benar alkohol, melainkan merupakan lilin (wax) yang teremulsi yang dibuat dari tumbuhan.  Hal tersebut seperti ditetapkan dalam sidang komisi fatwa 13 Juli 2013.

Dalam sidang komisi fatwa 13 Juli 2013 dinyatakan bahwa penggunaan kosmetika untuk kepentingan berhias hukumnya boleh dengan syarat bahan yang digunakan halal dan suci, juga ditujukan untuk kepentingan yang dibolehkan secara syar`i dan tidak membahayakan.

Penggunaan kosmetika dalam yang dikonsumsi atau masuk ke tubuh yang menggunakan bahan najis atau haram hukumnya ialah haram. Namun jika untuk penggunaan luar (tidak masuk ke tubuh) yang menggunakan bahan najis atau haram selain babi diperbolehkan, namun harus melakukan penyucian setelah pemakaian (tathhir syar`i).

Berkenaan dengan ini, MUI mengimbau masyarakat untuk memilih kosmetika yang suci dan halal serta menghindari penggunaan produk kosmetika yang haram dan najis

Hukum Keramas dan Memotong Kuku Saat Haid

Hukum Keramas dan Potong Kuku Saat Haid

Published in Faith
by Hafsyah

Sering kita mendengar orang tidak memotong kuku dan mengumpulkan rontokan rambutnya ketika haid untuk disucikan bersama ketika mandi junub nanti. Anggapan ini berangkat dari pemikiran bahwa wanita yang haid kondisi tubuhnya sedang tidak suci, sehingga rambut dan kuku yang hilang dalam kondisi haid harus dimandikan juga. Benarkah hal ini?

Hukum Keramas dan Potong Kuku Saat Haid

Sebenarnya tidak ada larangan atau dalil yang dengan jelas menyebutkan larangan ini. Namun terdapat beberapa contoh kasus serupa dalam hadits dan riwayat.

1. Aisyah RA menyisir rambutnya saat haji wadha

اخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَأَهْلَلْنَا بِعُمْرَةٍ ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيُهِلَّ بِالْحَجِّ مَعَ الْعُمْرَةِ ، ثُمَّ لا يُحِلَّ حَتَّى يُتِمَّهُمَا جَمِيعًا قَالَتْ : فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ فَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَدَعِي الْعُمْرَةَ

Aisyah RA, mendapat haid saat mengikuti haji wadaa’. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Bukalah ikatan rambutmu dan sisirlah. Lalu masuklah ke dalam ihram untuk mengikuti haji ….” [HR. Bukhari Muslim].

Dalam hadits ini, Aisyah RA bahkan diminta Rasulullah untuk tetap berhaji (kecuali melakukan wukuf). Logikanya, pasti ada helai rambut yang rontok selagi menyisir. Namun Rasulullah SAW tidak menyebutkan keterangan apapun terhadap rambut yang gugur tersebut. Maka hal ini juga berlaku untuk keramas yang memungkinkan rambut kita berguguran.

2. Memotong kuku, rambut kemaluan, dan ketiak

النص على أن الحائض تأخذها ” انتهى يعني الظفر والعانة والإبط

Perempuan haid boleh memotong kuku, bulu kemaluan, dan bulu ketiak.

Adapun menurut mahzab syafi’i, perempuan atau wanita yang sedang haid boleh memotong kuku, rambut kemaluan serta rambut ketiak. Sehingga jika seseorang kehilangan rambutnya saat haid tidaklah mengapa dan tidak dipermasalahkan dalam islam.

3. Dalil tidak adanya larangan menghilangkan kuku dan rambut

وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا

Dari ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa menyatakan: saya tidak menemukan dalil syar’i atas makruhnya menghilangkan rambut dan memotong kuku bagi orang junub.

Sehingga dapat disimpulkan, wanita diperbolehkan menyisir, keramas, dan memotong kuku selama haid. Karena apabila wanita tidak keramas, menyisir, dan memotong kuku selama haid, justru akan mengganggu kebersihan tubuhnya. Sedangkan Islam amat memperhatikan kebersihan dan menyukai kebersihan. Maka tetaplah beraktivitas dan merawat tubuh selama haid sebagaimana biasanya.