0 %

Faith / CATEGORY ARCHIVES

haid

Mandi Wajib Haid yang Benar

Published in Faith
by Hafsyah

Haid adalah salah satu hadats besar yang menghalangi kesucian wanita dan menangguhkannya dari berbagai kewajiban sebagai muslimah. Mandi wajib wanita haid beda dengan hadats besar lainnya. Seperti apa mandi wajib haid yang benar?

haid

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Asma’ binti Syakal Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:

تَأْخُذُإِحْدَا كُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَهَا فَتََطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أوْ تَبْلِغُ فِي الطُّهُورِ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُُهُ دَلْكًا شَدِ يْدًا حَتََّى تَبْلِغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطْهُرُ بِهَا قَالَتْ أسْمَاءُ كَيْفَ أتََطَهَّرُبِهَا قَالَ سُبْحَانَ الله ِتَطَهُّرِي بِهَا قَالَتْْ عَائِشَةُ كَأنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِي بِهَا أثَرَالدَّمِ

“Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya. Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah” maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu).”

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi dari haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:

تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهُّرُ بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهُّرُ بِهَاقَالَ تَطَهَّرِي بِهَاسُبْحَانَ اللهِ.قَالَتْ عَائِشَةُ وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبْعِي بِهَاأَثَرَا لدَّمِ

“Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dengannya. Wanita itu berkata: “Bagaimana caranya aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah bersucilah!” Maka ‘Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata: “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengannya(potongan kain/kapas).” (HR. Muslim: 332)

An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628): “Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).” Beliau berkata (1/627): “Diantara sunah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam an-Nisaa’: 117 juz: 1).

Syaikh Mushthafa Al-‘Adawy berkata: “Wajib bagi wanita untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haidh baik dengan menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dengan menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut) menguraikannya-bukan karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya, Wallahu A’lam.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam An-Nisaa’ hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-Sunah).

Maka wajib bagi wanita apabila telah bersih dari haidh untuk mandi dengan membersihkan seluruh anggota badan; minimal dengan menyiramkan air ke seluruh badannya sampai ke pangkal rambutnya; dan yang lebih utama adalah dengan tata cara mandi yang terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ringkasnya sebagai berikut:

  1. Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya, kemudian berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.
  2. Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut kecuali apabila dengan menguraikan jalinan akan dapat membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut (kulit kepala).
  3. Menyiramkan air ke badannya.
  4. Mengambil secarik kain atau kapas (atau semisalnya) lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah (farji) dengannya.
wajib

Tata Cara Mandi Wajib

Published in Faith
by Hafsyah

Kesucian tubuh dari hadats besar maupun kecil merupakan salah satu syarat penting sahnya ibadah. Maka ketika kita berada dalam kondisi junub, kita diwajibkan mandi agar dapat kembali menjalani kewajiban beribadah. Bagaimana tata cara mandi wajib? Ada dua hadits yang menjadi landasan utamanya.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidung, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

quran haid

Bolehkah Wanita Haid Membaca dan Memegang Alquran?

Published in Faith
by Hafsyah

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita simak fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz berikut.

“Menurut jumhur (mayoritas) ahli ilmu, tidak boleh bagi seorang muslim menyentuh mushaf (al-Quran) jika ia tidak berwudhu. Pendapat ini dikuatkan pula oleh imam yang empat dan semisal apa yang difatwakan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan hadits Amr bin Hazm bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman,

لاَ يَمَسُّ الْقُرْءَانَ إِلاَّ طَاهِرٌ

“Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang dalam keadaan suci.

Derajat hadits ini jayyid (baik) dan memiliki jalan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, dalam hadits ini dapat diketahui bahwa tidak boleh bagi seseorang untuk menyentuh al-Quran kecuali ia bersih dari najis besar dan kecil. Demikian pula halnya dengan memindahkan al-Quran, yaitu seseorang tidak boleh memindahkannya kecuali ia berada dalam keadaan suci.

quran haid

Akan tetapi, apabila seseorang menyentuh dan memindahkan al-Quran dengan menggunakan sesuatu, semisal pembungkus dan pembalut, maka tidak mengapa. Adapun menyentuhnya secara langsung sedang dia tidak suci dari najis, maka itu yang tidak dibolehkan menurut pendapat yang benar.

Selain itu, tidak mengapa bagi orang yang ber-hadats untuk membaca al-Quran, asalkan ia tidak menyentuhnya, mungkin dengan cara al-Quran tersebut dipegangkan dan dibukakan oleh orang lain lalu ia membacanya. Akan tetapi, bagi orang yang ber-hadats besar, yaitu janabah, hendaknya ia tidak membaca al-Quran, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarang seseorang untuk membaca al-Quran kecuali terhadap orang yang junub.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad dengan sanad yang jayyid (bagus) dari sahabat Ali. Bahwasanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari tempat buang hajat, lalu beliau membaca al-Quran kemudian beliau bersabda, “Hal ini diperbolehkan bagi orang yang tidak junub. Adapun orang yang junub, maka hal ini tidak diperbolehkan baginya meskipun hanya satu ayat.”

Maksud hadits ini, bahwasanya orang yang dalam keadaan junub tidak boleh membaca mushaf, meskipun ia tidak menyentuhnya sampai ia bersuci, yaitu mandi. Adapun orang yang ber-hadats kecil, tidak junub, maka tidak mengapa bila ia membaca al-Quran, dengan syarat ia tidak menyentuhnya secara langsung.

Kemudian ada sebuah masalah yang berkaitan dengan ini, yaitu masalah wanita haid dan nifas, bolehkah mereka membaca al-Quran ataukah tidak? Dalam hal ini ada sedikit silang pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat yang pertama mengatakan, bahwa wanita haid dan nifas tidak boleh membaca al-Quran, karena mereka digolongkan seperti orang yang junub.

Adapun pendapat yang kedua mengatakan, bahwa wanita haid dan nifas boleh membaca al-Quran, namun tidak boleh menyentuhnya, sebab masa haid dan nifas itu panjang dan waktunya cukup lama, tidak seperti orang yang junub, yang mana mereka mampu untuk mandi pada waktu itu juga, lalu membaca al-Quran. Adapun wanita haid dan nifas tidak mempu melaksanakan hal tersebut setelah suci. Oleh karena itu, tidak sah jika mereka (wanita haid dan nifas) dikiaskan seperti orang yang junub.

Sedangkan mereka yang membolehkan wanita haid dan nifas menyentuh Alquran melandaskan pemahamannya pada dalil yang sama namun dengan interpretasi berbeda. Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur’an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil. Kalau betul demikian maksudnya tentang firman Allah di atas artinya menjadi : Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali mereka yang suci/bersih, yakni dengan bentuk faa’il (subyek/pelaku) bukan maf’ul (obyek). Kenyataannya Allah berfirman : Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan, yakni dengan bentuk maf’ul (obyek) bukan sebagai faa’il (subyek).

Merekapun berdalil dengan hadits.

“Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci”

Shahih riwayat Daruquthni dari jalan Amr bin Hazm. Dan dari jalan Hakim bin Hizaam diriwayatkan oleh Daruquthni, Hakim, Thabrani di kitabnya Mu’jam Kabir dan Mu’jam Ausath dan lain-lain. Dan dari jalan Ibnu Umar diriwayatkan oleh Daruquthni dan lain-lain. Dan dari jalan Utsman bin Abil Aash diriwayatkan oleh Thabrani di Mu’jam Kabir dan lain-lain. [1]

Yang hak, yang dimaksud oleh hadits di atas ialah : Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang mu’min, karena orang mu’min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis”

Shahih riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain dari jalan Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpaiku di salah satu jalan dari jalan-jalan yang ada di Madinah, sedangkan aku dalam keadaan junub, lalu aku menyingkir pergi dan segera aku mandi kemudian aku datang (menemui beliau), lalu beliau bersabda, “Kemana engkau tadi wahai Abu Hurairah?” Jawabku, “Aku tadi dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersamamu dalam keadaan tidak bersih (suci)”. Maka beliau bersabda, “Subhanallah! Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis” (Dalam riwayat yang lain beliau bersabda, “Sesungguhnya orang muslim itu tidak najis”). Wallahu ‘alam.

Apakah Puasa Syawal Harus Berturut-Turut?

Published in Faith
by Hafsyah

Perintah melakukan puasa Syawal disebutkan dalam hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut ulama Syafi’iyah, puasa enam hari di bulan Syawal disunnahkan berdasarkan hadits di atas. Disunnahkan melakukannya secara berturut-turut di awal Syawal. Jika tidak berturut-turut atau tidak dilakukan di awal Syawal, maka itu boleh. Seperti itu sudah dinamakan melakukan puasa Syawal sesuai yang dianjurkan dalam hadits. Sunnah ini tidak diperselisihkan di antara ulama Syafi’iyah, begitu pula hal ini menjadi pendapat Imam Ahmad dan Daud.” (Al-Majmu’, 6: 276)

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa lebih afdhal memang berturut-turut namun kalau tidak bisa berturut-turut, maka tidak mengapa. Namun lebih bersegera menyelesaikan puasa Syawal itu lebih baik karena Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maidah: 48)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Nabi Musa ‘alaihis salam berkata,

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha: 84)

Lebih segera menunaikan kebaikan, akan membuat kita tidak luput. Namun tidak sesegera melakukannya pun tidak masalah. Jika puasa Syawal diakhirkan hingga pertengahan atau akhir bulan, masih dibolehkan.

 

Bolehkah Puasa Syawal Dulu Sebelum Qodho Ramadhan?

Published in Faith
by Hafsyah

Salah satu sunnah puasa yang cukup utama adalah puasa Syawal. Puasa ini berlangsung selama 6 hari di bulan Syawal, setelah menyelesaikan puasa Ramadhan. Tapi bagaimana dengan wanita yang masih punya hutang puasa? Mana yang harus didahulukan? Puasa sunnah atau qodho Ramadhan?

 

Pertama, terkait dengan puasa wajib Ramadan, puasa sunah ada dua:

[1]. Puasa sunah yang berkaitan dengan puasa Ramadan. Contoh puasa sunah semacam ini adalah puasa sunah Syawal. Berdasarkan hadis,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.” (HR. Ahmad 23533, Muslim 1164, Turmudzi 759, dan yang lainnya)

[2]. Puasa sunah yang tidak ada kaitannya dengan puasa Ramadan. Seperti: puasa Arafah, puasa Asyura’, dan lain-lain.

Kedua, untuk puasa sunah yang dikaitkan dengan puasa Ramadan, puasa sunah ini hanya boleh dikerjakan jika puasa Ramadan telah dilakukan dengan sempurna, karena hadis di atas menyatakan, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian …,”

Sementara orang yang memiliki utang puasa Ramadan tidak dikatakan telah melaksanakan puasa Ramadan. Karena itu, orang yang memiliki utang puasa Ramadan dan ingin melaksanakan puasa Syawal harus
meng-qadha utang puasa Ramadan-nya terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa Syawal.

Fatwa Imam Ibnu Utsaimin tentang wanita yang memiliki utang puasa ramadhan, sementara dia ingin puasa syawal,

إذا كان على المرأة قضاء من رمضان فإنها لا تصوم الستة أيام من شوال إلا بعد القضاء ، ذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال ) ومن عليها قضاء من رمضان لم تكن صامت رمضان فلا يحصل لها ثواب الأيام الست إلا بعد أن تنتهي من القضاء

Jika seorang wanita memiliki utang puasa ramadhan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setelah selesai qadha. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal…”. Sementara orang yang masih memiliki utang puasa ramadhan belum disebut telah berpuasa ramadhan. Sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa 6 hari di bulan syawal, kecuali setelah selesai qadha. (Majmu’ Fatawa, 19/20).

Ketiga, untuk puasa sunah yang tidak terkait dengan puasa Ramadan, boleh dikerjakan, selama waktu pelaksanaan qadha puasa Ramadan masih panjang. Akan tetapi, jika masa pelaksanaan qadha hanya cukup untuk melaksanakan qadha puasanya dan tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan puasa sunah lainnya maka pada kesempatan itu dia tidak boleh melaksanakan puasa sunah. Contoh: Ada orang yang memiliki utang enam hari puasa Ramadan, sedangkan bulan Sya’ban hanya tersisa enam hari. Selama enam hari ini, dia hanya boleh melaksanakan qadha Ramadhan dan tidak boleh melaksanakan puasa sunah.

syawal

Mengapa Menikah di Bulan Syawal?

Published in Faith
by Hafsyah

Memasuki bulan Syawal, banyak kita dapati rekan dan saudara yang menikah. “Habis Lebaran,” juga biasa menjadi jawaban akan rencana waktu menikah. Mengapa orang-orang banyak menikah di bulan Syawal? Bagaimana hukum menikah di bulan Syawal?

Mengapa banyak orang menikah di bulan Syawal?

Bulan ke-10 dalam penanggalan Hijriyah ini mendapat namanya dari bahasa Arab syalat. Pada bulan ini, biasanya unta betina menolak dikawini dengan cara mengangkat ekornya untuk mengusir unta-unta jantan (syalat bi dzanabiha: menolak dengan mengangkat ekornya). Anehnya, bangsa Arab jahiliyah ‘mengadopsi’ fenomena ini dengan tidak menikah pada bulan Syawal. Bahkan menganggap bulan Syawal adalah bulan sial untuk menikah.

Kehadiran Islam, terutama melalui Rasulullah SAW banyak meluruskan kebodohan kaum terdahulu. Salah satunya adalah ketika Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal. Dalam salah satu riwayat disebutkan, dari Aisyah RA “Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah SAW yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (HR. Muslim)

Hadits di atas tidak bermaksud mengecilkan pernikahan Rasulullah dengan istrinya yang lain, melainkan untuk menegaskan besarnya keberkahan bulan Syawal. Sehingga alangkah baiknya jika bulan berkah ini dimanfaatkan untuk mengawal sebuah kebaikan, yaitu menikah. Sebab sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara sunahku, aku shalat malam dan aku juga tidur, aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku menikah dan aku juga (bisa) menceraikan. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.” (HR. Ad-Darimi). Sehingga menikah di bulan Syawal adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW.

Namun terlepas dari semua itu, yang lebih penting adalah menjauhi tasyaum atau thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam. Banyak orang tua dan leluhur yang menghindari menikah pada tanggal dan bulan tertentu karena dianggap membawa sial. Ada juga yang menentukan tanggal pernikahan dengan menghitung tanggal serta hari lahir kedua mempelai. Kemudian dengan hitung-hitungan khusus menentukan tanggal yang tepat yang akan membawa keberuntungan.

Pola pikir lama ini sebaiknya segera ditinggalkan jauh-jauh. Allah tidak menciptakan sial pada hari, bulan, tahun, jam tertentu. Setiap detik bagi umat Islam adalah anugerah dan kebaikan. Sehingga kita tidak ada hari sial atau hari buruk untuk menikah. Dalam hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada (sesuatu) yang menular dan tidak ada (sesuatu) yang sial (yakni secara dzatnya), dan aku kagum dengan al-fa’l ash-shalih, yaitu kalimat (harapan) yang baik.” (HR. Bukhari Muslim). Apalagi untuk memulai sebuah kebaikan seperti menikah, tidak ada hari yang buruk untuk menyempurnakan separuh agama.

Pernikahan biasanya digelar akhir pekan. Namun ini lebih kepada pertimbangan praktis agar tidak menyulitkan tamu yang hendak hadir memberi restu. Jika pernikahan digelar di akhir pekan, kemungkinan besar mereka dapat meluangkan waktu untuk hadir di pernikahan kita karena sedang libur kerja dan sekolah. Untuk pertimbangan semacam ini, tidak bertentangan dengan agama. Selama bukan merupakan thiyarah dan tasyaum tadi.

Cups of coffee and plate of dates.

Niat Mengganti Puasa Ramadhan

Published in Faith
by Laiqa Magazine

Cups of coffee and plate of dates.

Ada hal-hal yang membuat seseorang tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan, misalnya datang bulan bagi wanita, atau sakit yang tiba-tiba melanda. Oleh karena itu, puasa tersebut harus diganti (qadha) pada hari lainnya di luar bulan Ramadhan.

Lafadz niat yang digunakan untuk meng-qadha puasa Ramadhan yaitu:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa-i fardhi ramadhaana lillaahi ta’aalaa
Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala

Tak ada perbedaan yang begitu jauh antara niat puasa Ramadhan dengan niat qadha puasa. Keduanya tetap diniatkan dalam hati dengan batas waktu niat yakni dari waktu magrib hingga subuh. Qadha puasa Ramadhan wajib hukumnya untuk dilaksanakan sesuai banyaknya puasa yang telah ditinggalkan saat Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:
Qadha (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. ” (HR. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar).

Dari hadits di atas dijelaskan bahwa qadha puasa tidak wajib dilakukan secara berurutan. Qadha dapat dilakukan kapan saja baik secara berurutan ataupun terpisah. Waktu untuk melaksanakannya pun cukup lama, yaitu hingga Bulan Ramadhan berikutnya.

Jika ada orang-orang yang tidak menyelesaikan qadha puasa Ramadhan sampai Bulan Ramadhan berikutnya tanpa halangan yang berarti, maka hukumnya haram atau berdosa. Lain halnya dengan orang yang berhalangan qadha puasa Ramadhan karena udzur, maka mereka tidak berdosa.

Bagi orang yang meninggal dunia sebelum memenuhi kewajiban qadha puasa Ramadhan, pihak keluarga wajib memenuhinya. Sebagian pendapat menyatakan qadha puasa Ramadhan bagi orang yang meninggal dapat diganti dengan fidyah, yakni memberi makan orang miskin sebanyak 0.6 kg makanan pokok untuk setiap hari berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda:
Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban puasa, maka dapat digantikan dengan memberi makan kepada seorang miskin pada tiap hari yang ditinggalkannya.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu ‘Umar)

Sedangkan pendapat lainnya menjelaskan bahwa jika orang yang meninggal tersebut belum meng-qadha puasa, maka pihak keluarganya wajib menggantikan dengan melaksanakan qadha puasa Ramadhan, tapi tidak diperkenankan menggantinya dengan fidyah. Pelaksanaan qadha puasa tersebut dapat digantikan orang lain atas seizin keluarganya.

Rasulullah SAW bersabda:
Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban qadha puasa, maka walinya (keluarganya) berpuasa menggantikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Dari berbagai sumber

530A4194

5 Keistimewaan Bulan Syawal

Published in Faith
by Anastasia Gretti Schender

530A4194

Bulan Syawal adalah bulan kemenangan bagi seluruh umat Islam. Setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa, bulan kesepuluh hijriyah ini hadir dengan keistimewaannya. Apa saja keistimewaan Bulan Syawal?

1. Kumandang Takbir

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaha ilallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaa ilhamdu”

Keistimewaan Bulan Syawal diawali dengan takbir yang dikumandangkan dalam menyambut 1 Syawal. Seluruh umat Islam dengan penuh suka cita mengumandangkan takbir. Bahkan tak hanya di Masjid, di rumah-rumah dan jalan-jalan pun gema takbir menambah riuh hari kemenangan. Kumandang takbir adalah bentuk ungkapan rasa syukur telah selesai menjalani ibadah pada bulan Ramadhan.

2. Kembali pada Fitrah

Bulan Syawal merupakan bulan kembali pada fitrah setelah satu bulan lamanya menahan dan berperang melawan hawa nafsu. Haram hukumnya berpuasa saat telah datang 1 Syawal. Di bulan penuh kemenangan ini seluruh umat Islam akan kembali pada fitrahnya, dilipatgandakan pahalanya setelah menjalankan ibadah wajib dan sunnah saat bulan puasa, serta diampuni dosanya bagi umat yang selalu tak lupa berikhtiar.

3. Meningkatkan Silaturahmi

Jika biasanya disibukkan oleh padatnya aktivitas pekerjaan, maka bulan syawal adalah bulan yang tepat untuk meningkatkan silaturahmi dengan sanak saudara dan karib kerabat. Bulan Syawal adalah bulan penuh rahmat dan berkah karena umat Islam dapat meningkatkan silaturahmi. bagi yang jarang bertemu, momen Bulan Syawal ini dapat dimanfaatkan untuk reuni dan halal bi halal.

4. Puasa Enam Hari Setara dengan Puasa Satu Tahun

Di Bulan Syawal terdapat amalan puasa sunnah enam hari yang nilainya setara dengan telah berpuasa satu tahun. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

5. Bulan yang Baik untuk Menikah

Menurut Imam An-Nawawi, hadits berisi anjuran menikah pada bulan Syawal menerangkan bahwa Siti Aisyah menegaskan: “Rasulullah SAW menikahi saya pada Bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada Bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”.

 

BANDA ACEH, 27/11 - TAKBIRAN IDUL ADHA. Remaja masjid mengikuti pawai takbiran Idul Adha 1430 Hijiriah di  Banda Aceh, Kamis (26/11). Ribuan warga dan ratusan kendaraan ruda dua dan empat di ibukota Provinsi Aceh itu mengikuti pawai takbiran keliling kota.FOTO ANTARA/Irwansyah Putra/ed/hp/09.

Mengapa Harus Takbiran?

Published in Faith
by Hafsyah

Takbir adalah salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup lekat dengan masyarakat Muslim Indonesia. Takbir berkumandang di mana-mana, menghadirkan suasan tersendiri yang tidak ditemukan di hari lain. Takbiran adalah salah satu cara menghidupkan malam hari raya bagi umat Muslim. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Salah satu bentuk pengagungan nama Allah adalah dengan bertakbir.

Tradisi takbiran

Imam Nawawi Rahimahullah dalam kitab Al-Majmu’ mencantumkan sebuah riwayat, “Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW berangkat pada hari raya beserta al-Fadll bin Abbas, Abdullah, Abbas, Ali, Ja’far, al-Hasan, Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, Ayman Ibn Ummu Aiman mereka meninggikan suaranya (mengeraskan suara) dengan membaca tahlil dan takbir, mengambil rute satu jalan hingga tiba di tempat salat. Dan ketika mereka selesai shalat, mereka kembali melewati rute yang lainnya hingga tiba di kediamannya”. (HR. Al-Baihaqi).

Sedangan keras-lembutnya suara takbir tidak diatur dengan jelas, apalagi dengan perkembangan zaman melalui speaker dan sebagainya. Namun cukup secara jahr (keras), minimal terdengar oleh telinga kita sendiri. Rasulullah dan para sahabat juga melalui jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang salat. Tujuannya untuk menyebarkan syiar dan takbir secara lebih luas. Di samping itu, dengan melalui jalan yang bereda, akan terbuka peluang bersilaturahmi dengan lebih banyak orang lagi, baik para tetangga hingga orang yang berpapasan dengan kita di jalan.

Sedangkan di Indonesia, pelaksanaan takbir banyak diwarnai berbagai budaya dan tradisi. Antara lain mengarak bedug atau memukul kentongan berkeliling kampung, menghabiskan malam mengaji dan bertakbir di masjid, dan lain-lain. Bagaimana dengan budaya takbiran di daerahmu? Share tradisi malam takbiranmu di kolom komentar di bawah ini ya!

bajubaru

Baju Lebaran Menurut Islam

Published in Faith
by Hafsyah

Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan baju baru. Ungkapan ini dapat kita temukan hingga pada lagu anak-anak. Berbelanja baju baru seakan menjadi tradisi menyambut Lebaran di Indonesia. Sebagaimana dapat kita lihat pasar, mall, begitu ramai dipadati pembelanja bahkan sejak Ramadhan. Para produsen fashion dan tempat perbelanjaan beramai-ramai menggelontorkan diskon-diskon menarik bertemakan Idul Fitri. Pertanyaan “Sudah beli baju Lebaran belum?” begitu lazim menghiasi percakapan sehari-hari kita. Namun ironisnya, baju baru berkembang menjadi salah satu elemen penting dari Idul Fitri, bahkan menyamai ketupat, Salat Id, mudik, dan lain-lain. Sebenarnya bagaimana hukum baju baru Lebaran menurut Islam?

Baju baru Lebaran

Idul Fitri adalah hari raya besar dalam Islam. Umat Islam hanya mengenal dua perayaan setiap tahun, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Anas RA, “Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr).” (HR. An-Nasai).

Sehingga jelas melalui dalil ini, bahwa pada Idul Fitri, umat Muslim memang harus menyambutnya dengan suka cita penuh kegembiraan. Imam Al-Bukhari dalam bukunya meriwayatkan sebuah hadits Abdullah bin Umar RA berkata, “Umar RA mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah , kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di Hari Kiamat).’” Islam memang mengharamkan pria mengenakan pakaian dari sutera, namun dari hadits ini dapat kita tangkap sunnah untuk berhias mengenakan pakaian terbaik di hari raya Idul Fitri sebagai bagian dari suka cita kita menyambut Lebaran.

‘Kegelisahan’ akan baju baru Lebaran rupanya telah ada sejak zaman penyebaran Islam. Sebagaimana diriwayatkan sesungguhnya Umar bin Khattab RA pernah melihat putranya memakai baju yang usang pada Hari Raya, lalu Umar menangis, sehingga putranya bertanya, “Apa yang membuat ayah menangis?”. Umar berkata, “Hai anakku, aku khawatir kalau hatimu menjadi susah di hari raya ini, ketika teman-temanmu melihatmu memakai baju usang itu”. Putranya berkata, “sesungguhnya hanya hati orang yang kehilangan ridha Allah yang merasa bersedih atau orang yang berani kepada Ibu atau bapaknya. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengharap ridha Allah berkat ridha ayah padaku”.

Sebagaimana hakikatnya sebuah sunnah, maka berhias diri pada hari raya Idul Fitri mendapat pahala, dan meninggalkannya tidak berdosa. Pakaian terbaik pun tidak harus selalu yang baru. Di sinilah umat Islam harus bersikap wara’ (waspada, mawas diri), karena iblis menyusupi hawa nafsu kita untuk menjadi konsumtif dan boros. Dari Wahab bin Munabbih RA, “Sesungguhnya iblis memekik histeris pada setiap hari raya, lalu anak buah iblis berkumpul mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai tuan kami, apakah yang menyebabkan kemarahan Anda?’ Iblis berkata, ‘Sesungguhnya Allah SWT benar-benar telah mengampuni umat Muhammad SAW pada hari ini. Maka kamu sekalian harus berusaha keras dengan segala macam kelezatan dan kesenangan nafsu.’” Termasuk di antara kesenangan nafsu Idul Fitri adalah boros berbelanja, bermewah-mewahan, hingga terlalu banyak makan. Naudzubillahi min dzalik…

zakat-1

Rumus Menghitung Zakat

Published in Faith
by Hafsyah

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saatnya kamu mulai menghitung kewajiban zakat. Bagaimana rumus perhitungan zakat menurut syariat?

A. Rumus Perhitungan Zakat Fitrah

Zakat Fitrah Per orang = 3,5 x harga beras per liter di pasaran

Contoh: Harga beras atau makanan pokok lokal yang biasa kita makan dan layak konsumsi di pasar rata-rata harganya Rp10.000,- maka zakat fitrah yang harus dibayar setiap orang mampu adalah sebesar Rp35.000.

B. Rumus Perhitungan Zakat Profesi

Zakat profesi = 2,5% x (Penghasilan total – pembayaran hutang/cicilan)

Menghitung nisab zakat profesi (batas penghasilan yang wajib zakat) = 520 x harga beras pasaran dalam kilogram

Contoh perhitungan zakat profesi:

Penghasilan kamu dari gaji bulanan Rp6.000.000 dan dari tambahan freelance Rp4.000.000. Berarti total penghasilan kamu Rp10.000.000. Setiap bulan kamu harus membayar cicilan bulanan Rp5.000.000, berarti penghasilan bersih kamu Rp5.000.000.

Apakah kamu wajib membayar zakat dengan perhitungan di atas? Mari cek apakah kamu sudah masuk nisab zakat atau belum.

Harga beras yang biasa dikonsumsi misalnya Rp8000/kilogram. Maka nisab zakatnya: 520 x Rp8000 = Rp4.160.000. Sedangkan penghasilan bersih kamu Rp5.000.000 berarti kamu wajib zakat karena telah melebihi nisab.

Jadi zakat profesi yang harus kamu bayar adalah: Rp.5.000.000 x 2.5% = Rp125.000 di bulan ini. Sedangakn untuk bulan selanjutnya tergantung dari jumlah penghasilan dan cicilan atau hutang yang harus dibayar di bulan tersebut.
C. Menghitung Zakat Mal/Harta

Zakat Maal = 2,5% x Jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun (catatan: Harta yang wajib dibayarkan zakat mal:
Emas, perak, uang simpanan, hasil pertanian, binatang ternak, benda usaha [uang, barang dagangan, alat usaha yang menghasilkan] dan harta temuan.)

Menghitung nisab zakat mal = 85 x harga emas per gram di pasaran

Contoh Perhitungan Zakat Mal:
Kamu memiliki tabungan di bank Rp100 juta, deposito Rp200 juta, rumah yang dikontrakkan senilai Rp500 juta rupiah, dan perhiasan senilai Rp200 juta. Total harta Rp1 milyar rupiah. Semua harta sudah dimiliki sejak satu tahun yang lalu.

Bagaimana menghitung nisabnya? Jika harga 1 gram emas Rp250.000, maka batas nisab zakat malnya: 85 x Rp250.000. Karena hartamu lebih dari nisab, maka harus membayar zakat mal sebesar Rp1 milyar x 2,5% = Rp25 juta per tahun.

tarawih

Hadits Palsu Pahala Salat Tarawih?

Published in Faith
by Hafsyah

Salat Tarawih adalah salat malam yang dilakukan hanya selama bulan Ramadhan. Hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dikuatkan) yang mendekati wajib karena kekhasannya dengan bulan Ramadhan. Kata Tarawih berasal dari bentuk tunggal tarwihah yang berarti duduk sesaat untuk istirahat. Sebab salat ini dilaksanakan malam hari, setelah beristirahat sejenak dari salat Isya. Salah satu riwayat keutamaan salat Tarawih yang populer di bulan Ramadhan 2016 adalah rangkaian pahalanya dari malam pertama hingga malam ketiga puluh.

tarawih

Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang keutamaan Tarawih di bulan Ramadhan lalu Beliau berkata: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya. Di Malam Ke-2 : Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman. Di Malam Ke-3 : Malaikat memanggil dari bawah arsy ; mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu. Di Malam Ke-4 : Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (al Qur’an). Di malam Ke-5 : Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsha. Di Malam Ke-6 : Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi baitul makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya. Di Malam Ke-7 : Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman. Di Malam Ke-8 : Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim as. Di Malam Ke-9 : Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi saw. Di Malam Ke-10 : Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat. Di Malam Ke-11 : Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya. Di Malam Ke-12 : Pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama. Di Malam Ke-13 : Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan. Di Malam Ke-14 : Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat. Di Malam Ke-15 : Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya. Di Malam Ke-16 : Allah swt menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga. Di MalamKe-17 : Diberikan pahala seperti pahala para Nabi. Di Malam Ke-18 : Para malaikat memanggil Wahai Abdullah,”Sesungguhnya Allah telah meredhoimu dan meredhoi kedua orang tuamu.’ Di Malam Ke-19 : Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus. Di Malam Ke-20 : Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh. Di Malam Ke-21 : Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga. Di Malam Ke-22 : Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan. Di Malam Ke-23 : Allah membangun baginya sebuah kota di surga. Di Malam Ke-24 : Dikatakan kepadanya,”Ada 24 doa yang dikabulkan.’ Di Malam Ke-25 : Allah mengangkat siksa kubur darinya. Di Malam Ke-26 : Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama. Di Malam Ke-27 : Pada hari kiamat ia akan melintasi shirothul mustaqim bagai kilat yang menyambar. Di Malam Ke-28 : Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga. Di Malam Ke-29 : Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima. Di Malam Ke-30 : Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air salsabila.”

Namun para ahli hadits meragukan keshahihan hadits ini, karena rangkaian pahala yang terdengar berlebihan, sekalipun ini adalah bulan Ramadhan, bulan berlipatgandanya pahala.

Beberapa ciri-ciri hadits palsu menurut para ahlli adalah:

1. Kelebihan yang disebutkan menyamai atau melebihi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

2. Kelebihan yang disebutkan tidak sepadan dengan amalan yang dilakukan.

3. Redaksi kata-katanya berbeda dengan lafaz dan susunan kata hadits-hadits shahih yang keluar dari mulut Rasulullah SAW.

4. Hadits ini diawali dengan ‘Ya Ali’, sedangkan para ulama sepakat hanya tiga hadits shahih yang dimulai dengan awalan ini, dan hadits tarawih ini bulan salah satunya.

Al Lajnah ad Daimah menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak memiliki landasan dan termasuk dalam hadits-hadits dusta terhadap Rasulullah SAW. (al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ No. 8050). Wallahu ‘alam bishawab.